Malaikat VS Setan

oLeh: dHay cHee (Ra. KaLiLawang)

Siang tadi, selesai nonton teve, disamping ‘singgasanaku’ ada beberapa tumbukan buku “Pendidikan Agama Islam” (PAI) tercecer di kursi. Niatnya sich mau menata atau di taruh ke rak buku agar tertata rapi. Tapi, ‘iseng-iseng berhadiahku’ muncul.

Lembaran demi lembaran kubuka buku itu. Namanya juga buku PAI pasti bisa menebak dong apa isinya?! Yups, isinya tentang seputar agama Islam, seperti: rukun iman, rukun Islam, kisah para nabi, nama-nama malaikat, dan sebagainya.

Nah, menariknya waktu membaca, mataku pun langsung tertuju pada sebuah judul, yakni Malaikat dan Tugasnya . Mungkin itu tak menarik. Namun, itu menjadi magnet -daya tarik tersendiri bagiku. Kususuri baris demi baris bacaan tersebut.

Ting! Lampu dalam otakku pun menyala. Muncul sebuah pertanyaan ketika ada pernyataan di dalam buku bacaan tersebut. Pernyataan-pernyataan tersebut mengingatkanku pada sebuah beberapa coment corat-coretanku di facebook, karyaku tentang “Budak Setan”. Coment yang menurutku sebuah share pemikiran dari teman-teman tentang karyaku.

Buku itu menjadi kail, dan aku pun terpancing untuk mengolah fikiranku hingga muncul beberapa pertanyaan. Dan kalau aku berfikir lebih keras lagi, maka membuatku semakin tak bisa berfikir dan ujung-ujungnya aku berkata: “Wallahu a’lam bishowab…” that’s it.

Ada beberapa hal pertanyaan yang ingin kuajukan terkait dengan pernyataan dalam buku teks PAI tersebut. Misalnya seperti: “Percaya kepada malaikat termasuk rukun iman yang kedua. Iman kepada malaikat adalah percaya dan yakin bahwa malaikat itu adalah makhuk dan hamba Allah yang diciptakan dalam bentuk gaib.” Kenapa setan, jin tidak termasuk atau dimasukkan dalam rukun iman?! Kenapa hanya malaikat saja?! Terlalu dikriminatif saya rasa. Padahal dalam Q.S al-Baqarah: 2 menyatakan bahwa, …petujuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rizkinya yang Kami anugerahkan kepada mereka. Kata “beriman kepada yang gaib” perlu digaris bawahi, yang gaib di sini bukankah tidak hanya malaikat? Setan, Jin kemudian Alam barzah dan sebagainya itu bukankah juga alam ghaib? Tapi kenapa kita disuruh untuk meng-iman-i malaikat saja?! –dalam hal yang ghaib tentunya, setelah Allah dan malaikat.

Kemudian “malaikat diciptakan Allah dari nur atau cahaya”. Sedangkan yang kita tahu bahwa setan itu adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dari api. Dan api itu menghasilkan cahaya. Lalu, apakah berarti bahwa ‘derajat’ malaikat itu dibawah setan?! Ataukah malaikat diciptakan dari ‘cahaya’ lain? Atau bagaimana?!

“Mereka (malaikat) mempunyai sifat selalu tunduk dan taat kepada Allah. Mereka tidak pernah berbuat maksiat atau durhaka terhadap Allah. Selalu bertasbih, dan menyucikan nama Allah SWT.” Sebaliknya dengan setan. Setan ‘menentang’ Allah karena kepongahannya sendiri. Karena setan tidak tunduk dengan perintah Allah. Tidak mau sujud pada nabi Adam.

Interpretasi yang tersirat menurut saya, setan itu juga mempunyai otak untuk berfikir. Ya, walaupun ada dalil yang menyatakan bahwa makhluk yang diberi akal hanya manusia. Tapi disini saya melihatnya seperti itu (boleh dong saya bebas berinterpretasi). Dengan kesombongan setan, setan berfikir bahwa: “saya ini diciptakan dari api, kualitas saya lebih bagus daripada tanah! Kenapa saya harus sujud kepada Adam?!”

Jelas sekali kontadiktifnya setan dengan malaikat. Para malaikat mempunyai sifat selalu tunduk dan patuh atas tugas yang diberikan Allah. Mereka tidak pernah menolak dan durhaka terhadap-Nya. Sebaliknya dengan setan.

Huft!! Ujung-ujungnya pasti kembali lagi! Kita serahkan kepada Dalangnya. Kembalikan lagi pada siapa yang menulis skenarionya. Gusti Pangeran, Allah subhanahu wa ta’ala. Allah mempunyai otoritas untuk membuat ‘ini’ dan ‘itu’. Hak prerogatif Allah juga siapa yang harus berperan untuk memerankan ‘drama sandiwara’ ini semua? Kun fa ya kun

Walaupun akal kita tidak akan sampai dan tidak akan mampu untuk memikirkan hal itu semua. Dan saya pribadi pun untuk memikirkan hal-hal semacam itu saja masih sangat sulit untuk diterima oleh akal, apalagi untuk menjawabnya?! Saya tidak mau terjebak, terlebih lagi tersesat dalam hal-hal pemikiran semacam itu. Naudzu billah tsumma naudzu billah…Allahumma ba’idnaa

Akan tetapi, sebagai manusia yang diberi akal, apa yang harus dilakukan? apakah kita hanya bertopang dagu kemudian manggut-manggut saja, meng-iya-kan semua kejadian?! Tak maukah berfikir?! Afalaa tatafakkaruun?! Afala ya’qiluun???
Ya setidaknya dengan menganalogikan atau semacamnya…
So, what a bout U?!

Brongebouw, 18 Februari 2010

5 thoughts on “Malaikat VS Setan

  1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

    Assalmu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

    Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberi kita nikmat tiada tara, yang salah satunya adalah nikmat untuk memeluk agama Islam ini. Shalawat serta salam tak lupa kita hanturkan kepada junjungan kita bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi was salam berserta para shahabatnya.

    Apa kabar saudari Dhey? Semoga sehat selalu sepanjang tahun.

    Asal muasal saya menemukan blog ini tidak sengaja, hanya melihat statistic tulisan-tulisan terbaru di wordpress. Terus terang saya suka terhadap pola berpikir saudari Dhey yang senantiasa mengajak otak untuk selalu berkerja.

    Kita sebagai orang yang awam dalam berbagai hal di agama Islam, sudah selayaknya jika mempunyai unek-unek yang meresahkan hati untuk menanyakan kepada para Ulama’. Sebagaimana jika saya dan saudari Dhey mempunyai persoalan kesehatan pastilah bertanya kepada dokter, jika berhubungan dengan mesin kita pergi ke mekanik dst.
    فَسْئَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ
    “Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui”. Al-Ambiya’: 08

    Disini saya mencoba untuk memberikan secuil keterangan tentang pertanyaan saudari Dhey, karena saya bukanlah seorang yang bisa disebut ulama’. Yang saya pahami dari saudari adalah ” kenapa Islam tidak menjadikan iman kepada jin sebagai salah satu rukun iman?” dan yang kedua ” jin lebih mulia dari malaikat karena jin tercipta dari api yang menghasilkan cahaya, sedangkan malaikat tercipta dari cahaya”.

    Untuk yang pertama ” kenapa Islam tidak menjadikan iman kepada jin sebagai salah satu rukun iman?”. Sebagaimana yang kita ketahui rukun iman itu ada:
    1. Iman kepada Allah.
    2. Iman kepada malaikat-Nya.
    3. Iman kepada kitab-kitab-Nya (yang telah diturunkan kepada para rasul).
    4. Iman kepada para rasul-Nya.
    5. Iman kepada hari akhir.
    6. Iman kepada takdir yang baik dan buruk.

    Syariat Islam datang dari Allah untuk umat ini yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi was salam dengan perantara Jibril. Untuk itulah Islam mewajibkan iman kepada malaikat itu sebagai rukun iman, karena malaikat itu (jibril) yang menjadi wasilah antara Allah dan Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi was salam.

    Seandainya rukun iman itu kita hapus yang no.2, maka jadinya seperti ini
    1. Iman kepada Allah.
    2. Iman kepada kitab-kitab-Nya (yang telah diturunkan kepada para rasul).
    3. Iman kepada para rasul-Nya.
    4. Iman kepada hari akhir.
    5. Iman kepada takdir yang baik dan buruk.

    Maka setiap orang bisa berkata “aku adalah utusan Allah yang membawa perintah-Nya untuk umat ini, agar melakukan ini dan itu”. Dan sering kali kita mendengar mereka yang mengaku sebagai Nabi berkata “Allah mewahyukan kepadaku ini dan itu” langsung kepada mereka tanpa perantara malaikat. Sebagaimana yang dilakukan seorang perempuan Sujjah binti Al-Harits dan seorang laki-laki Dulaihah ibn Khuwailid.

    Saudari Dhey yang dimulyakan Allah, saya menangkap dari saudari bahwa malaikat itu sama dengan jin karena mereka itu ghaib. Tidak bisa dilihat dengan panca indra tetapi wujud(keberadaan) mereka bisa kita rasakan.

    Perlu kita ketahui bahwa jin itu tidaklah sama(sederajat/setara) dengan malaikat. Akan tetapi jin itu setara dengan manusia. Karena jin memiliki kewajiban sama seperti manusia untuk berislam, untuk melaksanakan semua syariat ini. Bisa dilihat di ayat-ayat berikut:
    ” 1.Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan. 2. (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami,” Jin :1-2.

    ” Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” Al-Ahqaf :29.

    ” Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)” Al-Furqan : 1.

    ” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah(mengabdi) kepada-Ku” Adz-Dzariyat : 56.

    Karena dari golongan jin dan manusia ada yang tidak mau tunduk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, dan pastilah akan mendapat siksa yang amat pedih, ini berbeda dengan malaikat yang selalu tunduk kepada Allah tanpa sekalipun membangkan perintah-Nya.

    ” Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” As-Sajdah : 13.

    “Wallahu a’lam bishowab…”

    Untuk permasalahan ke dua ” jin lebih mulia dari malaikat karena jin tercipta dari api yang menghasilkan cahaya, sedangkan malaikat tercipta dari cahaya”.

    Saya hanya bisa menjawab tidak semua cahaya itu berasal dari api, tetapi api menghasilkan cahaya. Jadi kalau diitung-itung malaikat itu lebih unggul karena diciptakan dari bermacam-macam benda yang menghasilkan cahaya, entah itu api atau benda lain yang kita sendiri belum tahu apa itu karena ilmu kita yang terbatas. Contohnya: lampu juga mengasilkan cahaya, bahkan sebagian hewan pun bisa mengahasilkan cahaya dari tubuhnya, seperti kunang-kunang atau hewan laut (saya tidak tahu namanya, tetapi pernah lihat ditanyangan Discovery Channel) yang hidup dipaling dasar yang cahaya matahari tidak bisa menembus kedalaman laut tersebut.

    Tetapi yang saya tahu, siapakah yang paling mulia?

    “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” Al-Hujrat: 13.

    Untuk itulah saya mengajak saudari Dhey untuk sama-sama belajar bahasa Arab agar nantinya bisa langsung mengambil inti dari nash-nash agama Islam ini langsung. Dari Al-Qur’an dan Hadits ditambah lagi karya-karya ulama’ yang sangat begitu berharga untuk menambah khazanah ilmu.

    “Wallahu a’lam bishowab…”

    Karnan-Islamabad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s