Bukan Membalas, tapi Berbakti…

by: Ra. Robiatul Adawiyyah

Jumat malam ketika tengah membaca buku “Iblis Menggugat Tuhan” disela-sela cerita ada sebuah kisah tentang kecintaan anak terhadap bapaknya. Tak lain adalah kisah dari nabi Ishaq yang dijadikan “tumbal”nabi Ibrahim.

Setelah membaca kisah nabi Ibrahim tentang penyembelihan putranya Ishaq. Dan kira-kira begini ceritanya. Waktu itu Allah memberikan titah pada Ibrahim,

“ Hai, Ibrahim! Bawalah putramu dan jadikan ia sebagai persembahan bagi-Ku.”

Maka nabi Ibrahim pun dengan segera karena mendapat titah langsung dari Sang raja di raja alam semesta ini. Ibrahim pun membawa puteranya ke puncak gunung, mengikatnya di atas altar dan berkata,

“Wahai anakku, Allah telah memerintahkanku untuk mengorbankanmu.”

“Bahkan jika ini hanya kegilaan ayah semata, nyawaku masih tetap milik ayah yang bisa diambil sesuka ayah. Terlebih lagi jika ini memang keinginan Allah maka nyawaku sesungguhnya memang milik-Nya dan Dia pantas mengambilnya kapan saja” Jawab Ishaq dengan mantabnya.

Kisah itu membuat saya terinspirasi untuk membuat sebuah corat-coretan di kotak elektronik ajaib ini. Laptop. Dan juga, membuat jadi bahan renungan saya selama ini. Mungkin terlambat saya merenunginya saat ini. But, I think no problem! Kata orang, Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali!

Berbagai macam slide pertanyaan pun mulai muncul dalam pikiran saya! Apakah ada anak jaman sekarang yang masih mau tunduk (patuh) pada kedua orangtunya?!

Dengan cepatnya hati saya menjawab, Saya yakin masih ada!

Tak kalah cepatnya juga, pikiran saya langsung bertanya, Selama ini sudahkah saya berbakti padanya?! Hatiku pun mulai ragu untuk menjawabnya. Aku pun me-flashback memori otakku. Me-review semua kejadian-kejadian yang pernah aku alami.

Sembilan bulan sepuluh hari ibu mengandungku, merawat dalam kandungan dengan sebaik-baiknya. Sehingga, Alhamdulillahnya aku pun terlahir secara sempurna dalam hal fisicly! Tak ada kecacatan dalam fisik. Selama sembilan bulan sepuluh hari lamanya ibu juga selalu membacakanku surat Maryam. Agar kelak anak yang dikandungnya yaitu Aku, bisa seperti Siti Maryam. At least, bisa ber-tafaul dengan membaca surat Maryam. Amin.

Selang dua tahun berlalu. Dan selama 24 bulan inilah ibuku tak pernah berkata “lelah” untuk menyusui, menyapihku, menimang agar Aku lekas tidur. Dan itu dilakukan dengan sepenuh hati.

Lambat laun Aku pun beranjak menjadi gadis kecil yang lincah. Sewaktu kecil aku sering sakit-sakitan. Hampir tiap bulan harus check up keluar-masuk rumah sakit. Selalu plesir ke pantai untuk memandikanku di air laut sebagai pengobatan alternatifnya. Aku melihat, pasti orangtuaku lelahnya minta ampun! Tapi apa? Ibu-bapakku selalu mengatakan TIDAK AKAN PERNAH lelah untuk anaknya. Aku pun terharu.

Gadis kecil itu pun beranjak menjadi gadis dewasa. Waktu memasuki sekolah menengah hingga kuliah, banyak sekali tuntutan yang aku ajukan pada orangtuaku. Salah satu cerita yang masih kuingat dan akan kukenang adalah ketika masa awal kuliah.

Singkat cerita, waktu itu aku pulang kuliah. Awal kuliah pada saat itu kebetulan padat hingga menyebabkanku pulang malam (maghrib). Biasanya Aku diantar-jemput oleh bapakku (tu kan, kuliah aja aku masih diantar-jemput ma bapak! Gimana gak sayang banget tu ma anaknya?!), terkadang juga sesekali aku masih ngangkot. Tapi kali ini bapakku kebetulan ada urusan, hingga Aku harus ngangkot!

Dari kampus memang sudah agak sore banget! Sekitar jam lima sore. Aku mencari angkot “ijho” yang biasa kutumpangi untuk sampai ke rumahku, tapi tak ada. Hingga akhirnya ada angkot “orange” yang lewat, lalu aku menaikinya. Tiba-tiba kejadian tak terduga kualami! Aku diturunkan oleh sopir angkot. Gila! Emang aku salah apa?  Berbuat apa, sampai-sampai sopir angkot menurunkan aku di tengah jalan raya seperti ini?! Sekitar radius 5 kilo dari jarak kampus, kurang 4 kilo lagi aku sampai ke rumah. Pikiranku kalut. Kumandang Adzan maghrib terdengar jelas ditelingaku. Deg! Perasaan ketar-ketir pun menghiggapi. Aku panik! Cepat-cepat Aku Telephon Abangku, tapi tak diangkat-angkat. Waktu itu bapak belum punya Hp, hanya bisa menghubungi abangku karena di rumah, pikirku. Dan sialnya Lowbath! Baterai lemah! Dan tut…tut…tut, pet! Handphone-ku mati seketika! Aku tak tahu harus berbuat apa lagi! Aku sudah kehilangan akal, tapi tetap bersikap tenang. Agar tak ada kecurigaan dari orang-orang di sekitar. Air mata pun tak bisa lagi kubendung, karena posisiku sekarang sudah siaga 3! Tiba-tiba ada laki-laki dengan bersepeda motor yang menghampiriku, menawarkan jasa untuk memberi tumpangan. Tapi kutolak! Aku berfikir “Aku tak mau terjadi apa-apa”.

Pikiranku buntu, kususuri jalanan sembari mencari wartel yang mungkin masih ada di sekitar sini dengan harapan bisa menghubungi orang rumah. Alhamdulillah, keberuntungan berpihak padaku. Akhirnya beberapa menit kemudian ada angkot yang lewat. Di dalam angkot pun kuseka air mata yang terus membajiri pipiku. Cengeng! Batinku saat itu. Finaly, I go home! aku sampai juga ke rumah tercinta dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun.

Kejadian itu langsung Aku ceritakan pada orangtuaku setelah aku shalat maghrib, karena mereka heran melihat mata anaknya sembab sepulang kuliah.

“Ya Allah, Nduk! Untung ra kenopo-nopo.” Ibuku berujar seperti menyesali kejadian tersebut.

Dari cerita itu, ibuku mulai tersentuh –terharu melihat anaknya sedih. (secara, naluri ibu getho!. Gak mau anaknya tersiksa! Kalo ibu yang baik ya kayak gitu, Ya gak?!).

***

Selang 2 hari dari kejadian tersebut, tiba-tiba bapak mengajakku jalan.

Ajeng ten pundi, Bah?!” tanyaku basa-basi.

Wis, manut Abah!” seloroh bapakku.

Cap cis cus, tanpa ba bi bu aku langsung mbonceng bapakku dengan supranya. Aku terheran, ketika bapakku menyuruhku turun di sebuah show room sepeda motor.

“Emang mau beli motor lagi, Bah?!”  tanyaku polos.

wis, kana milih dhewe!” Jawab bapakku sekenanya. “Milih sing Revo, Supra opo Karisma?” tambahnya. Oups, nyebut merk gak papa ya.

Loh, abah meh numbaske aku motor po?! Batinku berbisik.

Wis, ndang milih!” perintah bapakku membuyarkan lamunanku.

Tak memakan waktu lama, sekitar setengah jam. Setelah nego, tak lama kemudian motor pun sudah di dapat! Supra-X hitam metalik, keluaran terbaru!

***

Ya itulah pengalamanku tetang kecintaan kedua orangtuaku terhadapku.
Dan mulai kembali, berbagai macam slide pertanyaan pun muncul dalam pikiranku! Selama ini sudahkah aku berbakti padanya?! Hatiku pun mulai ragu untuk menjawabnya.

Sekarang umurku telah menapaki kepala dua. Sudah banyak orang yang mempertanyakan kapan aku akan “melepas masa lajangku”. Dan mungkin 2 atau 3 tahun kemudian aku harus mempersiapkan untuk “melepaskan” diri dari kedua orangtuaku.

Pikiran-pikiran konyol pun mulai menggelayuti alam bawah sadarku. Tiba-tiba saja ada sebuah pertanyaan yang mungkin aku rasa ini konyol, tapi penting untuk di jawab!

Salahkah, jika aku ingin berbakti pada orang tuaku dengan cara aku harus sami’na wa atho’ na pada orangtuaku?! So, Pastilah, aku harus berbakti. Jika tidak, aku durhaka!

Jika suatu saat nanti mereka menjodohkanku karena pilihan mereka, haruskah aku menolaknya?! Haruskah aku tunduk dengan titah mereka?!

Hmmm, sulit juga! Pasti aku akan mempertimbangkan, bagaimana dengan perasaanku?! Apakah aku bisa menerimanya, mencintainya, mengasihinya, menyayanginya?! Dan berbagai macam alasan yang membual-bual harus ku utarakan.

Pelan-pelan dengan sedikit ketukan, hati kecilku pun mulai menjawab. Jika Ishaq saja rela di jadikan “tumbal”, karena begitu dalam cintanya kepada bapaknya, kenapa aku tak bisa?! Dan masih banyak lagi “Ishaq-Ishaq” di luar sana yang mempunyai kecintaan yang amat sangat dalam pada orangtuanya.

Aku harus bisa! Jawab hati dan pikiranku kompak.

Jika memang itu kehendak dari kedua orangtuaku, dan itu bisa membuat mereka senang. InsyaAllah, dengan kerelaan sepenuh hati untuk itu semua, demi kedua orang yang sangat aku cintai, jika itu yang bisa membuat mereka bahagia, AKU AKAN RELA! Karena aku yakin dengan sepenuh jiwa dan raga, mereka akan memilih yang terbaik untuk anaknya. AKU AKAN RELA karena aku bisa merasakan ketenangan jika mereka ridha. Dan AKU AKAN RELA Karena ridha Allah terletak pada ridha dari kedua orangtua yang sangat aku banggakan, kasihi, sayangi, dan aku cintai.

Wallahu a’lam…

Kalilawang, 12-13 Februari 2010

4 thoughts on “Bukan Membalas, tapi Berbakti…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s