Minimalis Tapi Manis

oLeh: Ra. Robiatul Adawiyyah

Suara gending yang rancak membuat lupa para pengunjung pada suasana udara malam di Fakultas Bahasa dan Seni. Kelas B reguler mementaskan drama Sintren secara berbeda. Pementasan yang selama hampir 120 menit menyuguhkan drama yang “minimalis tapi manis”.

Tampil sebagai drama perdana yang di gelar di gedung B6 ini tak menyurutkan langkah pengunjung untuk menyaksikan drama tersebut. Drama yang mengisahkan kehidupan seorang sintren yang sudah tidak perawan bernama Sumini ini, ternyata mendapat sambutan hangat dari para penonton. Walaupun disisi lain, tepatnya di auditorium Universitas diselenggarakan pemilihan putra-putri Unnes.

Drama ini menampilkan teknik muncul yang lain dari yang lain yaitu dari arah penonton. Setting diatur sesederhana mungkin, minimalis tapi manis dan mewakili konsep yang diangkat. Kostum dan tata rias juga sederhana tapi menguatkan karakter masing-masing tokoh. Kecuali mbah Dukun terlihat terlalu tampan. Selanjutnya vocal dan artikulasi yang ditampilkan masing-masing tokoh cukup kuat dan jelas namun di tengah dan di akhir vocal semakin turun kecuali tokoh Sinden. Ekspresi juga kuat hanya sangat terlihat lucu sekali saat Dukun kaget. Perpaduan setting, lighting dan musik yang paling unik mengena saat menyambut penonton hadir memasuki ruangan. Dan ketika adegan dukun membaca mantra. Pementasan drama yang di gelar dari tanggal 18-24 Desember 2008 ini, sebagai pengoptimalan bakat serta kreatifitas mahasiswa dalam mengaplikasikan mata kuliah Pementasan Drama, disamping sebagai ujian untuk pengambilan nilai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s