Asmadera

Karya: RobiatuL Adawiyyah (dHay-cHee)

Pagi yang cerah. Lazuardi merekah, membuat pesona yang begitu megah mengiringi upacara resmi penerimaan siswa-siswi baru SMU Asmadera. Wajah-wajah polos berbaris rapi seolah-olah membentuk huruf ‘U’ memenuhi pelataran gedung megah bertingkat dua yang bercatkan hijau-putih. SMU Asmadera yang terletak di jalan Sumpah Pemuda Surakarta inilah tunas-tunas bangsa mengabdikan dirinya.

Asmadera, yah…kata itulah yang populer bagi orang-orang ‘cerdas’ yang menyebut sekolah bergengsi ini. Sekolah negeri ini bukan sembarang sekolah. Dari nama, kelihatannya sih aneh. Sekolah kok namanya aneh banget?! Asmadera? Baru kali ini dengar. But, jangan salah kira, ternyata sekolah yang berlebelkan Islam ini banyak sekali keistimewaannya. Diantaranya adalah sekolah dengan taraf internasional karena hanya terdapat 5 cabang yang tersebar di Nusantara.

Sekolah yang dirancang dengan sekolah plus asrama dan menggunakan bahasa sehari-harinya dengan bilingual language yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris. Whee…e..e… Apa nggak josh…gandosh, top markotob tuh…

Dengan kapasitas murid-murid yang ber-IQ, yah… bisa dibilang diatas rata-rata. Tapi hanya sebagian aja sih. He… he…

Belum lagi prestasi dari bidang akademik maupun ekstrakurikuler  yang pernah diukir. Mulai dari tingkat kabupaten, kotamadya, propinsi, nasional, dan bahkan akan ditargetkan ke tingkat internasional. Wuih…wuih…wuih…

And the last but not least sekolah ini dibiayai oleh negara, jadi biayanya bisa mursidah, maksudnya murah gitu deh! Ditambah lagi setiap akhir semester murid-murid sekolah ini diberi subsidi oleh pemerintah, bagi yang berprestasi. Duh, siapa yang nggak mau tuh kalau ternyata sistemnya kayak gini?

Maka tidak heran jika para orang tua tertarik dan benar-benar menginginkan putra-putrinya bersekolah disini, agar anaknya bisa menjadi kebanggaan orang tuanya kelak dikemudian hari, karena setelah lulus dari sekolah ini, bisa  langsung melanjutkan studinya  go to aboard, keluar negeri men! Terserah mau pilih ke mana. Eropa? Ausie? Afrika? atau benua yang laennya? Suka-suka deh, mau pilih yang mana!

Dan ini terbukti, dengan adanya para alumni yang setelah lulus dari sekolah ini kemudian melanjutkan studinya ke negeri seberang nan jauh dimato. Ada yang di Cairo, Mesir sana, Madinah lalu di Belanda, Jerman, dan masih banyak lagi. Eits! Tapi tunggu dulu, mau masuk sekolah ini saja susahnya minta ampun. Ya…iyalah! Kata pepatah,  ‘bersusah-susah dahulu, baru bersenang-senang kemudian’, tul nggak?

Harus melalui berbagai cara, tes inilah-itulah. Dan Salah satu persyaratan agar dapat masuk sekolah ini adalah wajib peringkat 5 besar paralel dalam UAN di sekolahnya masing-masing. Ck…ck…ck… top banget!

Oya! Sekolah ini paling anti kalo ada orang tua wali murid yang memasukkan anaknya dengan cara tidak halal alias nyogok! Sistem yang digunakan sekolah ini pun berbeda dengan sekolah-sekolah lain pada umumnya, yaitu dengan sistem peraturan kelas yang memisahkan antara lawan jenis. Tapi bukan berarti sekolah ini seperti pondok pesantren pada umumnya, ya…walaupun ada kemiripan. Kelas putra-putri dibedakan. Lantai atas untuk putra dan lantai bawah untuk putri. Ini dimaksudkan agar mempermudah pengontrolan murid. Seragamnya pun harus memenuhi syaria’at agama. Of course dong, harus menutup aurat, baik putra maupun putri.

Buat Kiran, sapaan akrab Alya Kirani. Masuk sekolah seperti ini sangat membuat bangga bagi dirinya. Karena penuh perjuangan dan ini cita-cita Kiran sewaktu SMP dulu yang berkemauan keras agar bisa masuk sekolah yang bertaraf internasional itu.

Banyak putra-putri dari seantero nusantara menginginkan masuk di sekolah favorit ini. Mulai pulau yang berada di Ujung Kulon sana.  Sumatera, Kalimantan, Jabar, Jateng, Jatim, Maluku, Bali dan satu lagi pulau yang tidak boleh dilupakan.  Papua. Aduuhh…pokoknya dari sabang sampai merauke deh!

Makanya beruntung sekali Kiran bisa lulus ujian masuk SMU Asmadera ini. Beragam cara dan usaha Kiran lakukan. Mulai dari latihan soal-soal dan olah raga yang teratur agar badan tetap fit sewaktu tes uji coba. Ya! Sehat salah satu kunci utamanya karena itu salah satu persyaratan agar dapat lulus dalam tes ujian masuk SMU Asmadera. Coz, barang siapa sakit atau yang mempunyai penyakit kronis, be carefull, dan bersiap-siaplah untuk gigit jari. Karena mungkin saja tidak diterima, ini disebabkan murid-murid akan ditempatkan di asrama. So, seleksinya ketat benget!

Solo, Orspek…

“Yaa mu’askar intibah! Madid yadaka ilal amam… dur [1]!”

“We are taking over the march the leadership[2]!”

“Left …face! Veer to the right[3]!”

“Tau kalo matahari sedang nggak bersahabat ma kita-kita, ehh…ini malah disuruh berjemur plus disuruh PBB lagi! Ditambah aba-abanya pakek bahasa Arab sama Inggris, hanya dikasih waktu semalam aja buat ngafalin aba-aba dwibahasa itu! duh kebayang nggak seh, pyuzingnya minta ampun!”keluh Kiran.

“Kalau aba-aba belum bener aja nggak boleh istirahat. Noleh kiri-kanan nggak boleh! Emang kita apaan? kita bukan romusha atau pekerja rodi yang bisa disuruh-suruh seenaknya aja! Dasar penjajah!”. Gerutu Kiran dalam hati

“Aduhh… capek nih… iks… hiks…Dasar senior-senior yang tidak berperikemanusiaan! Tidak punya belas kasihaaan!” Omel batin Kiran.

“Ayah-Mamaku aja nggak pernah manggang anaknya sendiri diterik matahari yang suhunya sampai titik kulminasi gini. Ditambah bentak-bentak lagi, kalo nggak nurut perintah. Dasar, senior-senior yang jahat!!” Pekik Kiran.

“Kalian tuh sapa? Ibuku bukan? Bapakku bukan? brani bentak-bentak!” Teriak batin Kiran. Apapun acaranya pasti ada agenda untuk mbentak-mbentak, dari acara PBB sampai acara makan pun ada adegan bentak-bentak, kebayang nggak sih…! Entah itu salah ato bener, masiiih aja dibentak. Heran deh? Emang pita suaranya nggak putus apa? Kalo senior putra sih bisa dimaklumi, lha ini senior putri, tidak bisa dibayangkan! Cerocos Kiran tak henti-hentinya.

“Siapa yang berani lagi…?!” Tanya salah satu senior putri dengan suara ditinggikan kepada ‘pasukan’ Orspek ’03.

Dengan sigap tubuh tegap dari awal mula posisi istirahat menuju posisi siap, tangan Kiran mengayun ke atas Saya kak…!” Jawab Kiran lantang.

Sebenarnya dalam batin Kiran sih takut. Gimana nggak takut? Kalo pagi buta-buta gini sudah dibangunkan untuk PBB. Dilanjutkan agenda night adventure yakni salah satu rangkaian acara bikinan panitia Orspek ’03 untuk mengakhiri malam Orspek, yakni ‘napak tilas’ makam Bonoloyo. Kuburan yang terbesar di Surakarta. Kebayang nggak? Beribu batu nisan terjejer ditemani pepohonan kamboja yang slalu setia meneduhi persamayaman akhir para insan.

Acaranya sih hampir mirip wide game, jadi kayak pramuka dulu pada waktu SMP. So, ada pos-pos gitu. Setiap pos dijaga 2-4 orang lebihlah, dan setiap pos bervariasi kegiatannya.  Start jam 12 tet sampe adzan subuh dikumandangkan. Gile bener!

“Okey…bagus! Nah seperti itu dek…yang berani…yang tegas dan lantang gitu lo!” Komentar salah satu kakak senior dibalik barisan belakang.

“Bismillahirrahmanirrahim…” ucap Kiran lirih untuk memulai ‘petualangannya’ kali ini.

Dengan langkah gontai namun tetap waspada, pos pertama dan kedua dilewatinya dengan mudah, karena hanya disuruh wudhu, membaca do’a masuk kuburan serta tak lupa sedikit taushiah para senior putri.

Next, pos tiga. Disini Kiran digembleng untuk PBB ditengah jalan makam, me-review semua ‘gerakan militer’ untuk diuji. Apakah Kiran pantas lulus Orspek kali ini ato tidak. Jika tidak, maka ‘Orspek 04’ akan menantinya. Kiran harus mengulang tahun depan.

Sepuluh menit berlalu, Kiran merasa lega. “untung saja SMP sering ikut lomba PBB, jadi nggak terlalu susah, hanya mengganti bahasanya, translet ke bahasa Arab dan Inggris aja” batin Kiran senang.

Tugas selanjutnya dari pos ini adalah take and give signature. Untuk mengindikasikan bahwa peserta Orspek telah berhasil melewati pos yang dituju. Ini berlaku disetiap pemberhentian pos.

“Selamat! Adik bisa melanjutkan ke zona selanjutnya. Namun sebelumnya tulis nama lengkap serta tandatangan di atas kertas yang tlah tersedia. Disana…” jari telunjuk mbak Ulya memberi arah dimana kertas itu diletakkan. Kiran memperhatikan arah yang ditujukan. Samar-samar terlihat nyala redup lilin diterpa angin malam menerangi kertas hijau yang tertindih kerikil.   Setapak demi setapak  sedikit langkah kaki Kiran terhuyung menuju pusara yang ditujukan oleh kakak Panitia

“Deg…deg…deg…” semakin mendekat semakin jantung  Kiran berdetak kencang. “Pokoknya aku harus berani! Harus berani! Adventure Ini hanya mengetes mentalku aja! Ganbatte kudasai! Spirit!” Teriak batin Kiran menyemangati dirinya sendiri.

Fyuuh… lega.

Pos tiga sudah terlewati dengan aman. Langkah Kiran dipercepat agar sampai ke zona berikutnya sekaligus mempercepat usainya ‘permainan ini’.

Pos empat. Pos  ini pos yang paling menyedihkan plus menyebalkan. Soalnya  Kiran diminta makan pepaya yang sudah diasinkan selama 3 hari oleh senior putra yang menyamar jadi ‘mbah dukun’. Kebayang nggak sih asinnya minta ampun! Wueeks! Pengen muntah deh! Asin bangeeetsz.

Kiran menyusuri jalan keluar makam menuju pos lima. Pos yang terletak tak jauh dari lokal gedung sekolah. Pos yang tersulit bagi  Kiran, karena banyak sekali aral, rintangan, dan halangan yang menghadang. Kayak kera sakti aja!

Tiba-tiba …

“Aargghhh!!! Innalillahi…Astaghfirullahhal’adhim…!” Teriak  Kiran kaget sembari mengelus dada. Ketika kakinya tersandung oleh kaki kakak senior yang menyamar jadi pocong. Pocong dan genderuwo ‘jadi-jadian’ yang ternyata ngumpet dibawah kolong meja yang tak tertata rapi untuk mengageti para fighter Orspek 03.

“Bismillah… Subhanallah… Allahuakbar… Laailaahaillallah… Laa haula wa laa quwwata illa billah “ Dzikir  Kiran dalam hati. Kiran mulai menyisiri koridor sekolah disertai melafalkan segala macam dzikir untuk menghilangkan rasa takutnya. Takut jika jantungnya mau copot, Kiran memeriksa denyut jantungnya dengan menekan dadanya yang dibalut baju merah-marunnya. Nafasnya pun masih terengah-engah, karena masih shock dengan kejadian yang menimpanya tadi

Masak takut sich? Dulu kan  juga pernah kayak gini! Waktu pramuka di es-em-pe. Jangan  game over dulu dong? Masak baru separo perjalanan sudah letoy! Ayo semangat! Kamu harus bisa!” Benak Kiran memberi dorongan untuk slalu berpositive thingking.

“Ayo dek cepat! Lari….lari dek! Tap…tap…tap…lari menuju ke lantai atas cepat…!” Teriak senior putri dari kejauhan.

“Huh…huh…kyaaa! Mama! Hosh…hosh…! kyaaa… wattaa… huh…!” teriak Kiran kaget disertai akrobat silat. Kiran pun tak kalah sigap, dengan memasang posisi kuda-kudanya.

Ternyata Kiran harus berurusan dengan 3 hantu yang berbaju item-putih yang sedang berjaga di tangga koridor. Satu di mulut tangga dengan posisi berdiri sambil loncat-loncat kesana-kemari, mirip anak kecil yang sedang cacingan. Hantu kedua duduk manis ditengah-tengah belokan tangga yang menghubungkan ke pos selanjutnya, dengan berpose bak kuntilanak yang sedang mencari anaknya. Hihihihi

Dan hantu ‘jadi-jadian’ yang terakhir berada diujung tangga atas, yang sedang melambai-lambaikan jari-jemarinya yang lentik. Mirip artis Suzana kalo sedang main film horor!

” Fyuuh… Akhirnya sampai juga….” Lirih  Kiran lega.

“Tugas berikutnya, masuk ke dalam ruangan. Temukan permen satu saja.  Apapun jenisnya! Setelah itu cuci muka dengan air yang sudah dibubuhi bunga tujuh rupa yang berada didalam! Paham instruksi saya!” Perintah senior putri, panitia penjaga pos lima. Tak selang beberapa menit Kiran melapor.

“Siap, paham…!” Jawab  Kiran tegas. “Instruksi yang aneh…” pikir benak Kiran. Tapi, apapun itu perintahnya, Kiran harus melaksanakannya, takut ancaman yang datang. Jika tidak, oh… jangan harap bisa lulus Orspek ’03.

Pintu ruangan pun mulai dibuka perlahan-lahan.

Kreekkk …

Gelap.

Diraba-rabanya semua benda yang ada didalam ruangan. Mulai dinding,  meja, kursi …

“Ooups! Ooo, apaan nih? Kok ada benda empuk sih ? mirip Phoo, boneka penjaga tidurku? Hehehe…” Tebak Kiran sembari tangannya masih meraba-raba benda yang ada  disekelilingnya.

Dan…

“Dug! Ooow! Aduh!” Kiran mengaduh kesakitan.

“Kiran, ayo jama’ah subuh! sudah ditunggu Ayah lo!” sayup suara Mama seiring ketukan pintu membangunkan Kiran dari balik pintu kamar. “Ohya, sudah packing buwat ke Solo tho? Nanti jam 6.30 kita berangkat!” tanya Mama memastikan.

“Iya Ma!” Jawab Kiran sesaat setelah membuka mata. Tertegun beberapa saat, Kiran hanya nyengir kuda sembari mengelus-elus kepalanya yang terbentur lantai marmer di kamarnya dengan masih mendekap Phoo, boneka beruang yang selalu setia menemani tidur Kiran yang masih didekap tangan kanannya.


[1] Semuanya siap grak! Lencang depan grak!

[2] Pimpinan kami ambil alih!

[3] Hadap kiri! Serong kanan grak!

2 thoughts on “Asmadera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s