Hidup Itu Pilihan…

Karya: Rab’ah eL adawEa

Suasana begitu lengang. Malam hari itu, hanya terlihat tiga orang yang sedang bercakap-cakap di depan teras asrama putra. Khaliq, Ihsan, dan Ginanjar. Mereka asyik latihan muhadatsah[1] bahasa Arab, karena terbilang siswa baru masuk di sekolah Asmadera[2].

Hampir enam bulan mereka tinggal di boarding school ini. Jadi, belum begitu fasih dan lancar untuk berbicara menggunakan bahasa Arab. Kalau pun ada kosakata yang mereka belum mengerti, hampir semua siswa baru menggunakan jurus andalannya. Yakni memakai ‘bahasa tubuh’. Itulah jurus yang ampuh untuk menangkal dari iqab[3] bagi pelanggar bahasa. Karena banyak sekali jasusah[4] atau spyer yang bertebaran di mana-mana. Semua dikerahkan oleh dewan pengurus asrama untuk mendisiplinkan bahasa. Maklum saja, sekolah yang bertaraf internasional ini mewajibkan para siswa-siswinya setiap harinya menggunakan bilingual language. Setiap satu minggu sekali ganti bahasa. Minggu pertama menggunakan bahasa Arab, kemudian minggu kedua memakai bahasa Inggris, dan seterusnya.

Tapi, namanya juga anak muda, suka mencari tantangan, jadinya nakal. Kalau di dalam kamar terkadang mereka suka curi-curi kesempatan untuk menggunakan bahasa ibu mereka. Hihihi… nah lo! Ketahuan.

Ternyata suasana hati Haris tak sama seperti Ketiga temannya tadi, yang masih mempunyai semangat ’45 untuk memperdalam dan mempelajari bahasa. Entah, pikiran apa yang telah membuat rona Wajahnya begitu mendung kala itu, kontras dengan cuaca malam yang bermandikan cahaya bulan dan kerlap-kerlip bintang. Cerah.

Di kamar yang berukuran 3×4, dinding yang berwarna krem dengan perabotan dua set tempat tidur bertingkat yang terbuat dari kayu jati, serta 4 set meja belajar plus kursi, karena setiap kamar diisi oleh 4 orang.

Haris anak asli Jombang, berperawakan atletis. Lulusan pondok Tebu Ireng, hanya terpaku diam sembari mencorat-coret kertas disana-sini dengan tulisan kaligrafi di atas pembaringan tidurnya.

Melihat suasana yang tak sedap dipandang.

“Hey! Haris, limadza ente[5]? Pasang muka buruk kali! Apa awak ada masalah?” celetuk Thahar khas dengan logat Sumbar campu Melayunya, mengagetkan lamunan Haris.

“Kalau ada problem ceritakan sajalah, mungkin Ambo bisa bantu…” berjalan mendekati tempat tidur Haris.

Laa ba’saa, ane kher[6] ” jawab Haris sekenanya, tak memandang Thahar. Masih mencoret-coret kertas dengan tulisan kaligrafi nasakhnya[7].

“Tak apa macam mana awak ini, ambo tahu sifatmu, Ris. Sudah hampir 6 bulan kita saling kenal. Awak ini kan periang, jarang Ambo melihat awak  sedih. Jadi sedikit saja awak pasang muka aneh macam itu,  ambo tahu awak sedang tertimpa masalah…” Semprot Thahar disertai tepukkan tangan ke punggung Haris.

Rahman yang sedari tadi sedang asyik mengkaji kitab ushul fiqihnya di meja belajar, sedikit penasaran dengan muka Haris yang katanya ‘aneh’ menurut Thahar. Rahman pun memutar badannya ke belakang. Melihat wajah haris dengan seksama.

Nggih, wonten nopo ta mas Haris, mboten biasane njenengan mekaten?” tanya Rahman medok dengan khas logat bahasa Solonya yang krama nginggili.

Aktivitas corat-coret berhenti, Haris hanya memalingkan muka ke arah Rahman. Memaksakan senyum dan hanya menggelengkan kepala. Tanda berarti ‘tak apa-apa’, kemudian melanjutkan lagi aktivitasnya.

“Biasanya orang yang periang itu, ekstrovert [8]! Jadi, walaupun awak menutup-nutupi masalah yang awak pendam itu sendiri, tak akan bertahan lama…” cerocos Thahar bak psikolog, yang tahu segala macam masalah yang sedang dihadapi Haris. Entah apa itu masalahnya,  yang penting Thahar mencoba mendiagnosa terlebih dahulu.

Sembari mengelus-ngelus dagunya yang tak juga mulus-mulus, karena banyak sekali jerawat yang tak terurus. Thahar pun tak patah arang mencoba menanyakan kembali, membujuk agar mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Haris.

“…Ayolah kawan! Ceritakan sajalah pada kami? Mungkin kami bisa mencarikan solusinya. Ya…, setidaknya dengan awak share pada kami, bisa sedikit membantu dari beban pikiran awak itulah kawan…”

Haris menarik nafas panjang. Menghentikan kegiatan corat-coretnya. Memandang, mencermati setiap sudut kamar, melihat satu per satu teman sekamarnya itu.

Thahar orang keturunan Padang-Melayu-Medan yang  tak patah arang, cerewet, sukanya ngomong ceplas-ceplos tapi care sama teman. Rahman anak Lawean, kota priyayi asli, berbudi santun, tak pernah mencela. sedari tadi duduk di kursi dengan kitab ushul fiqih yang berada digenggaman tangannya. Dan Fahmi, anak Cirebon yang  mempunyai kulit putih, tinggi badan yang ideal, serta wajah yang tidah jauh kalah saing dengan para model ataupun coverboy, hingga sering disebut ‘turis kesasar’ oleh teman-temannya karena sikap parlente yang dimilikinya, sudah tertidur pulas dengan ditemani bunga tidurnya.

Thahar dan Rahman saling berpandangan. Melihat sikap Haris yang tak seperti biasanya itu. Mereka menatap Haris dengan tatapan yang tajam, menanti keluhan yang akan dilontarkan Haris. Mereka pun bersiap-siap dengan memasang telinga secara seksama, bak menunggu pengumuman hadiah yang akan dibagikan kepada para pemenang undian. Terpaku.

Haris kembali menarik nafas panjang, merapikan sarung kotak-kotak hijau lumut yang dikenakan, mengambil posisi dengan menyilangkan dua kaki, menaruh bantal diatas pangkuan kakinya. Merajut jari-jemari untuk diletakkan diatas bantal yang dibungkus sarung bantal bermotifkan batik cokelat-kemerah-merahan.

“Hm…, entahlah…” Haris angkat bicara.

Lama terdiam. Sepi.

“Ummm…, apa lebih baik aku mengundurkan diri saja ya, dari sekolah ini?” Haris memecah keheningan.

Rahman dan Thahar sontak kaget, tak percaya.

“Hey! Awak ini kenapa? Apa awak sakit? Tak ada hujan, tak ada angin, langit begitu cerah kali malam ini, kenapa awak tiba-tiba bilang seperti itu?” ucap Thahar, menempelkan punggung tangannya ke kening Haris.

“Ah! Tak panas!” lanjut Thahar.

Haris menepis tangan Thahar.

“Aku tak bercanda…, aku ingin keluar dari sini…” ucap Haris lirih sambil memainkan jari-jemarinya.

“Hey, hey, hey, tunggu dulu kawan! Apa ambo tak salah dengar? Awak mau keluar dari sekolahan ini? Susah-susah payah kita masuk di sekolahan yang bergengsi ini. Beribu orang berbondong-bondong masuk ke sekolah favorit ini, beruntung kita lulus dalam ujian masuk, dan tinggal di asrama ini. Dan awak…, mau menyiakan-nyiakan saja kesempatan emas awak itu…?” Bentak Thahar. Aksinya mirip hakim yang sedang menghukum terdakwa yang terkena pasal pelanggaran hukum.

“Iya, mas Haris? Sing leres mawon, njenengan badhe medhal saking sekolahan niki?” Rahman memastikan.

Haris mengangguk perlahan.

“Banyak madharatnya jika aku masih tetap tinggal disini…”

“Memang madharatnya apa, mas Haris?” selidik Rahman.

“Ya…, banyak…”

“Loh, lebih banyak mudharatnya lagi jika awak keluar dari sini kawan!” sela Thahar. ”Justru di disinilah kita di dewasakan, tinggal bagaimana nanti adaptasinya. Jika sedang ada masalah berarti kita sedang didewasakan Tuhan…”

Nggih mas Haris. Sabar…, yang namanya orang cari ilmu itu ujiannya cuma kesabaran. Memang umur kita masih dalam masa transisi, jadi masih bergejolak jiwanya. Bukan berarti kita tergesa-gesa untuk memutuskan masalah, tapi kita belajar untuk menetralisirnya. Jadi ingat cerita nabi Musa dan nabi Khidir,  Karena nabi Musa nggak sabar, maka beliau tidak dapat ilmunya nabi Khidir. Jangan gegabah mengambil keputusan…”

Haris merenungkan kata-kata Rahman.

“Ya! Ambo  rasa betul apa yang dikatakan Rahman. Mengapa awak bisa berpikiran macam itu? Memangnya, apa yang membuat awak gundah gulana? Cobalah awak pikir-pikir dulu keputusan awak itu…,”

“Memangnya, mas Haris mau keluar dari sini karena tidak kuat? …Tidak kuat dengan apanya? Nggak betah? Ada masalah?  Pelajarannya berat? Atau…”

“Entahlah, aku tak tahu! Aku masih pusing…”. Haris memijit-mijit keningnnya.

Suasana kamar, hening. Hanya terdengar sayup-sayup suara dari luar kamar. Percakapan tiga orang yang sedang getol-getolnya belajar bahasa Arab.

Hal ente majnun [9] ?” Kelakar Ihsan bersama kedua temannya.

Dan mereka pun tertawa terbahak-bahak.

“Sinting! Mereka tidak tahu apa ini sudah jam berapa? Mengganggu saja!” Protes Thahar ketika mendengar percakapan sahabat mereka yang tak di anggapnya lucu.

“Kenapa ya, aku terlahir di dunia ini? Apa manfaatnya coba?” Haris mengetuk-ngetukkan kepala dengan jari telunjuknya.

“Hey, mas Haris kok ngomongnya gitu…?,…kita di lahirkan di dunia ini kan liya’buduun, untuk menyembah Gusti pangeran kang moho agung, yoiku Gusti Allah. Dan kita diciptakan di dunia ini untuk menjadi khalifatul fil ard, serta liyanfa’unnas…, dan itulah sebaik-baik manusia…” Rahman, lulusan dari salah satu pondok yang ada di Jawa Timur, Lirboyo, mulai ceramah. Mirip da’i kondang yang selalu menyampaikan dakwah dibeberapa pelosok desa.

Haris hanya menatap Rahman. Tatapan yang ragu, dengan mengernyitkan kening dan mengangkat alis kanannya. Lalu, memalingkan muka ke arah Thahar.

“Aduh…! Awak ini sebenarnya kenapa sih, Haris? Ngomong tak jelas macam itu! Hm…, ambo jadi teringat oleh sesuatu ungkapan seorang filosof besar, Descartes namanya. Beliau bilang bahwa, keberuntungan yang terbesar adalah tidak dilahirkan, keberuntungan yang kedua adalah mati waktu masih kecil, dan keberuntungan yang Ketiga adalah mati muda. Dan suatu kerugian terbesar adalah mati tua. Nah…, awak saat ini merasa bahwa dilahirkan di dunia adalah suatu kesalahan besar. Jika awak masih seperti ini, apakah awak sudah merasa menikmati hidup ini?” 180 derajat gaya Thahar berbalik arah, yang semula bergaya meniru psikolog, sekarang bergaya menirukan style para filosof besar yang ia kagumi dengan gaya retoris yang meledak-ledak.

Haris terdiam. Menundukkan kepala, menatap kosong ubin lantai.

“Apa mas Haris sudah berikhtiar dengan keputusan mas Haris buat? Sudah seberapa jauh ikhtiarnya? Apakah mas Haris akan menyerah hanya dengan ikhtiarnya mas Haris saja?…”. Meletakkan kitab Ushul fiqih ke meja belajar.

“… mungkin bukan saat ini, besok, atau lusa semuanya akan selesai. Entah kapan aku tak tahu pasti! Bicaralah pada Gusti pangeran, karena Gusti sedang mengajarkan kita tentang arti sabar, tentang arti kesetiaan, serta tetang njenengan dan orang lain…”

Thahar memetikkan jari, “Sepakat! Yah, lebih baik awak bicarakan dululah dengan Tuhan awak itu! Awak masih muda kawan, banyak hal yang awak bisa berbuat untuk menikmati hidup ini agar bermanfaat. Hidup itu pilihan, maka awak harus memilih…”

Nyuwun pituduhe Gusti Allah lewat istikharah. Semoga diparingi dalan ingkang bener, mas Haris…” Rahman beranjak dari kursi menuju singgasana tempat tidur.

“…sampun ndalu, ngantuk banget…kulo bobok riyen nggih…” Menutupi mulut yang sedari tadi menguap.

Thahar melirik Seiko, jam dinding yang terpasung manis didinding kamar.

“Ah! Tak kusangka sudah jam setengah dua pagi. Kita harus cepat-cepat tidur kawan, besok hari senin, ada apel pagi!”

Ajakan tidur Thahar tak dihiraukan Haris. Kata-kata Rahman dan Thahar tadi terekam jelas di benaknya. Haris mereview, mengingat-ingat apa yang di katakan oleh kedua sohibnya itu.

“Apa mas Haris sudah berikhtiar dengan keputusan mas Haris buat? Sudah seberapa jauh ikhtiarnya? Apakah mas Haris akan menyerah hanya dengan ikhtiarnya mas Haris saja?…”.

“… mungkin bukan saat ini, besok, atau lusa semuanya akan selesai. Entah kapan aku tak tahu pasti! Bicaralah pada Gusti pangeran, karena Gusti sedang mengajarkan kita tentang arti sabar, tentang arti kesetiaan, serta tetang njenengan dan orang lain…”

“Ya…! Kenapa aku bisa lupa…! Aku masih punya Dia…”teriak batin Haris.

Haris bangkit. Membuka jendela kamar, membelalakkan matanya, menatap hamparan langit yang bermandikan cahaya bulan serta kemilau kerlap-kerlip bintang.

“Nyuwun pituduhe Gusti Allah lewat istikharah. Semoga diparingi dalan ingkang bener, mas Haris…”

Kata-kata terakhir Rahman masih membayangi di benak Haris.

“Ya…, benar apa kata Rahman. Istikharah…”

[Antologi puisi, Cerpen, dan drama dalam “Asmadera”]


[1] percakapan

[2] (baca: cerpen Asmadera)

[3] hukuman

[4] Mata-mata

[5] Kenapa kamu ini?

[6] Tak apa, aku baik-baik saja

[7] Bentuk tulisan arab

[8] terbuka

[9] Apa kamu gila?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s