Unfortune Number?

Karya: RadHeN Ayu KaLilawang (Robiatul Adawiyyah)

OSIS SMU Asmadera atau lebih akrabnya dikenal dengan akronim Osama —mirip nama tokoh yang ada di Afghanistan ya? Cerdik juga tuh anak-anak Asmadera kalau nyingkat nama— oleh murid-murid, emang ngerti banget! Apa kemauan dari ‘para pencari ilmu’. Dari sekian ratus murid SMU Asmadera, banyak bakat yang dimiliki para siswa.

Kita semestinya tahulah, setiap individu itu pasti different, mempunyai keunikan sendiri-sendiri and then kemampuan yang berbeda-beda. Seperti halnya nusantara kita ini. Selain kaya akan kekayaan alamnya, negeri Bhineka Tunggal Ika ini pun kaya akan adat istiadat dan budaya. Dan itu yang membuat keistimewaan tersendiri dari negeri lainnya. So, untuk mengembangkan talent-talent yang masih tersembunyi, Osama 2005 mengadakan acara “Language Fair 2005“. Yach…bisa dikatakan pencarian bakat. Jangan kira kalah saing dengan Indonesian idol, AFI atau semacamnya…

Language fair 2005 adalah serangkaian acara agenda tahunan held by Osama 2005. Acaranya sih banyak banget. Sebuah acara yang dikonsep dengan menggelar beberapa lomba. Adu bakat.

Ada Poetry Reading, Retelling Story, Speech Contest, News Reading, sing a song alias acapella dan masih banyak lagi. Kira-kira ada 10 competition yang digebrak dari panitia Language Fair 2005.

“Nasywa, are you ready for to nite[1]?” tanya Syareefah dari belakang sambil menepuk punggungku, untuk memastikan persiapan lomba yang akan kuikuti.

Insya Allah, wish me luck!” jawabku singkat penuh harap dan doa.

“Tapi Fah, aku ngrasa deg-degan ya? Aduh gimana nih?! Ntar malem kan audiencenya bejibun! Apalagi dinasti Gletzher comunity juga unjuk gigi. Saingan terberat Fah…” Imbuhku dengan rasa khawatir.

Ohya! Di sekolah ini mewajibkan setiap angkatan memberikan ‘nama beken’ untuk tiap-tiap generasinya. Seperti Gletzher community adalah nama lain dari angkatan kelas XI bahasa 3. lalu Yadeen generation untuk angkatan kelas XI IPA 4. And other example, El-zhy, generasi kelas XII bahasa 1.

“Laa ba’sa [2], yang penting kamu harus pe-de! Spirit girl! Okey honey? Ucap Ifah, menyemangatiku.

Beruntung sekali aku punya teman seperti Ifah, nama panggilan kesayangan dari Syareefah. Selain rasa sosialnya tinggi, dia juga hampir tidak pernah marah ataupun mengeluh jika ada teman yang menggunjinginya. Tak sia-sia orang tuanya memberi dia nama Syareefah. Memang mulia.  Bukan hanya arti namanya saja yang ‘mulia’ tapi juga mulia akan akhlaknya. Pengen deh kayak dia. She’s the best my friendship I have.

Auditorium, 19:39:41…

Gemuruh suara yel-yel menggema di ruang auditorium Asmadera. Sahut-sinahut sorakan para murid Asmadera menjadikan suasana malam menjadi gegap gempita.

Panas, dingin, gemetar plus deg-degan campur aduk, tumplek bleg jadi satu! Itulah yang sekarang dialami oleh fighterfighter Language Fair 2005 yang akan siap bertempur untuk memperebutkan jawara.

Dibalik panggung terlihat beberapa competitor yang sedang exercise untuk melancarkan pidatonya buat speech contest nanti. Ada juga yang ngebanyol, ketawa haha-hihi buat ngilangin ketegangan. Dari pada stress? Mending dibuat enjoy kan betterrelax.

Tapi, ‘pasukan’ yang akan bertempur pada malam kali ini ada juga yang dari tadi terlihat gelisah, bolak-balik naik-turun tangga dari gedung auditorium.

Mungkin untuk mengusir kegelisahan yang menderu deram dalam dirinya kali? Ceile…menderu deram? Kata-katanya sok mendramatisir banget! Hehehe…

Parahnya fighter ini naik-turun tangga karena terkena HIV! Masya Allah, kok bisa? Hanya dengan naik-turun tangga langsung bisa kena virus HIV? Buset…parah banget!!! Ya Allah, Naudzubillah….

Whoi! Waiting for a moment dong! Emang tau kepanjangan HIV? HIV tuh, Hasrat Ingin Vivis! Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan gitu dong ah! Pamali

Hasrat Ingin Vivis? Maksa banget! Pipis kalee…

Terhitung lima kali sudah, peserta dari Retelling Story ini keluar-masuk dari toilet. Dengan muka yang penuh ekspresi. Mirip lampu warna-warni yang sering dipajang dirumah-rumah kalo sedang ada acara besar gitu. Like tujubelasan atau tahun barunan. Merah-ijo-kuning, byar pet…byar pet…

Ya Allah mas, tegang sih boleh. Tapi mbok ya jangan terlalu! Weleh-weleh…

“Nasywa…! Nasywa…!” Teriak Azky dari kejauhan. Koridor kelas.

Aku pun mendadak berhenti, mencari asal sumber suara. Dengan samar-samar kutolehkan kepala ke belakang dengan penuh tanda tanya.

“Da pa?” Tanyaku singkat.

“Nasywa, bisa bantu aku nggak? Kita bisa tukeran nomer undian?” Pinta Azky melas, dengan nafas yang terengah-engah.

“Loh, emang kenapa?” selidikku.

“Ntar kan drama kita pentasnya setelah ini, kamu tau kan selain ikut lomba news reading aku kebagian job apa? Aku harus ngurus kostum sama tata rias para pemain? Gimana? can you hem mi[3]? please…” Cerocos Azky tak henti-hentinya bak birokrat yang sedang berdiplomasi.

“Emang kamu nomer berapa?”

“13…”

“No-Nomer 13?”

Deg! Tiba-tiba saja kulitku merinding. Bulu kudukku berdiri. Berbagai macam slide negative thingking masuk dalam memoriku! Terbayang beberapa tragedi yang dulu pernah terjadi.

Dulu mobilnya kak Nafa pernah dirampok pada tanggal 13. September. Trus sepeda motornya mbak Rara ditabrak waktu mau berangkat kuliah, sampai akhirnya mbak Rara takut pulang ke rumah jika bapak-ibu marah, juga terjadi tepat pada tanggal 13 April, walaupun tidak sampai merenggut nyawa sih. Tapi itu sudah memberikan gambaran jelas bahwa angka 13 itu menunjukkan kesialan seseorang. Dan kebanyakan orang mengamini akan hal itu. Keberadaan angka tersebut sebagai unfortune number[4].

“Nasywa, how? Please…”

Lama aku terdiam, untuk menimbang-nimbang tawaran yang di ajukan Azky untukku.

“Dah nggak apa-apa, Nasywa! Ntar kamu kan lebih banyak latihannya.” Jawab Ifah dari arah balik pintu kelas XII IPA 3 disela keterdiamanku.

Ternyata Ifah mendengar percakapanku dengan Azky dikoridor tadi.

“Umm…gimana ya Ky? Aku sih sebenarnya…, ya udah deh nggak papa! Nih!” ku ambil kertas berukiran bintang dengan nomer 5 yang terpasung di baju putih dengan motif bordir bunga, kusodorkan nomer undianku pada Azky.

Azky pun terlihat sumringah ketika menerima benda mini itu.

Dari lubuk hatiku yang paling dalam, sebenarnya sih aku tak rela untuk joinan nomer dengan Azky. Tapi entah kenapa waktu Ifah datang dan bilang seperti itu padaku. Seakan-akan ada semacam secercah kilatan cahaya yang terlintas dibenakku.

Aku berjalan beriringan bersama Ifah menuju ke auditorium. Menyaksikan pertunjukan sekaligus prepare buat performance news reading nanti.

“Nasy, baca Robbish shrahlii shadrii wa yassirlii amrii wahlul uqdatam millisaanii yafqohuu qaoulii sebanyak-banyaknya” ucap Ifah lirih sembari marajut jari-jari mungilnya dalam genggaman erat tanganku yang dari tadi terasa dingin karena saking tegangnya. “Itu akan melancarkanmu pada waktu kamu di depan nanti” Imbuhnya.

Aku pun perlahan mengangguk. Tanda bahwa aku sepakat dengan nasehatnya. Seketika itu pun juga aku mulai melantunkan ‘jampi-jampi’ yang telah diberikan Ifah padaku. “Robbish shrahlii shadrii wa yassirlii wahlul uqdatam millisaanii yafqohuu qoulii…” Sampai giliranku maju on stage…

“Gimana guys hiburannya dari El-Zhy? Nyanyinya bagus kan? cerocos MC pada audience penuh gelora semangat. Tanpa basa-basi.

“Huuuuu…!!!” jawab audience kompak.

“Okey, okey! Sekarang kita kembali ke jalan yang benar…” ujar MC ngalah.

”Setelah break dan diselingi performance dari El-Zhy dengan acapellanya, plus karena dirasa temen-temen sudah terkumpul semua nyawanya, maka acara kita lanjutkan…”

“Yah, lomba berikutnya news reading dengan nomor 13. Come forward, please…

“Yeeeee…!!!!” riuh sorak penonton

“We…are…we…are…sport you! We…are…we…are…sport you…” Teriakan Yel-yel serta aplous menggema. Membahana dalam ruangan. Chayo Nasywa! Spirit! Teman-teman menyemangatiku.

” Bismillahirrahmanirrahim…” lirih batinku.

Detik-detik yang dinanti…

3 hari berlalu. Inilah waktu yang ditunggu-tunggu, ratusan siswa-siswi Asmadera untuk ‘menjemput impian’. Malam ini adalah malam penentuan siapa saja yang menjadi para jawara dari ajang contest adu bakat ini.

Aku pun tak luput tegang untuk mengetahui siapa saja yang lolos pada competition kali ini. Kulirik casio mungilku yang melingkar manis dilengan kiriku. 8:12:45. “Sudah jam delapan lebih duabelas menit” Pikirku. “Dari tadi acaranya musik terus, kapan nih pengumumannya?” Aku mulai gelisah, Karena acara inti belum juga ‘tayang’.

Tak menunggu lama. Keluh kesahku ternyata didengar Aziz dan Lia. Pasangan duet MC untuk acara clossing of Language Fair 2005. Mereka pun mulai beraksi. Menirukan gaya host atau VJ MTv.

“Dan juara pertama speech contest diraih oleh… Abdul Qoder!” Gemuruh suara teriakan serta tepuk tangan meriah para murid bersorak-sorai.

“Baiklah, sekarang kami akan mengumumkan para pemenang lomba dari News Reading.” Suara aziz meredam.

Aku pun mulai merasa was-was, tegang, gelisah, serta deg-degan menanti woro-woro yang akan dibacakan oleh Aziz. Hatiku pun mulai mengadu nasib. Menang…tidak…menang…tidak…

“Okey, saya akan bacakan dari urutan yang bontot dulu yah… Pemenang ketiga diperoleh… Mustafa Jamil dari Gletzher Comunity! Runer-up disabet oleh Rahmadianti dari Yadeen Generation!”

“Huh! Sudah aku duga, aku akan kalah competisi kali ini. Aku menyerah. Tapi bagaimana mungkin? Sampai disinikah kemampuanmu Nasy? Jangan jadi pecundang! Kalau tidak dapat jawara News reading tahun ini, kan masih ada kesempatan tahun depan? Ah tidak…tidak kenapa harus tahun depan?” otakku pun mulai beradu argumen.

Tapi, tiba-tiba saja…

“Dan…jawara Newz Reading 2005 kita kali ini adalah…” ucap Aziz dan Lia menirukan gaya para artis jika sedang berlaga dalam acara Ajang Music Award.

Nasywa Jazila!” pekik Aziz dan Lia kompak.

Aku terhenyak. Terkejut. Antara percaya dan tidak percaya! Tanpa sadar aku pun mencubit kedua pipiku untuk memastikan apakah aku benar-benar menang atau hanya mimpi!

“Aow!” Ternyata sakit. Berarti aku memang sedang tidak bermimpi. Walaupun acara sudah larut malam dan timing yang tepat untuk melayang jauh terbang tinggi di negeri impian sana. Negeri alam bawah sadar.

Pikiranku secepat kilat me-flash back kejadian-kejadian yang telah lalu. Konon angka 13 adalah angka kesialan bagi kebanyakan orang. Tapi ternyata, aku telah membuktikan sendiri. Bahwa semua angka itu baik. Tergantung bagaimana kita me-sugesti bahwa itu baik atau tidak bagi kita.

Aku pun teringat akan kata-kata bijak entah siapa yang mengutarakannya aku tak begitu ingat, Jika engkau berfikir engkau lelah, maka kau merasa lelah. Jika engkau berfikir tidak berani, maka engkau tidak berani. Jika engkau ingin menang tetapi berfikir tidak dapat, maka engkau tidak akan menang. Jika engkau berfikir kalah, maka engkau akan kalah, karena diluar dunia kita menemukan keberhasilan, dimulai dengan kehendak seseorang itu semua ada didalam pikiran.


[1] Kamu dah siap buat ntar malem?

[2] Tak apa!

[3] (bahasa slang) bisa bantu aku kan?

[4] Angka sial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s