BRONGEBOUW MOEDAL, RIWAYATMU KINI…

Oleh: Radhen Ayu Kalilawang

Sebuah tulisan terukir jelas “Brongebouw Moedal”. Nama yang tertera pada bangunan yang mirip sebuah gardu luas. Dibangun tahun 1911 pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda.

Pagar kawat berduri tergembok rapat. Menandakan tidak sembarang orang diperbolehkan masuk. Tali besi berduri itu mengelilingi sebuah bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Bangunan persegi empat yang di penuhi tumpukan ornamen batu bercatkan hitam-putih itu memiliki sebuah halaman luas yang sudah di aspal di belakangnya. Sementara sebuah pohon karet yang menjulang di samping halaman depan senantiasa menemani bangunan itu yang kini berusia 99 tahun.

Reservoir Tertua

Dalam bahasa Belanda, “Brongebouw” berarti “sumber properti”.  Konon, ketika di tengah hiruk-pikuk revolusi fisik sumber air Moedal diserbu oleh tentara Belanda bersama pasukan Sekutu.

Dulu, pada zaman penjajahan, penampungan air atau yang disebut reservoir, mempunyai arti penting. Selain sebagai pemenuh kebutuhan air di perkantoran, perumahan warga, juga mempunyai arti khusus dalam hal sejarah. Maka tak heran jika tempat ini dinamakan “Brongebouw” oleh kompeni Belanda. Sebab di tempat ini, mengandung air yang tak henti-hentinya mengalir hingga saat ini. Dan karena dari sumber mata air inilah orang-orang Semarang dan sekitarnya bisa menyambung hidup. Dan perlu dicatat, Moedal yang terletak di sebelah timur kampung Sumurgunung ini merupakan reservoir tertua di Semarang.

Mengaliri Semarang

Bangunan ini memiliki luas sekitar 10×15 m. Di bagian bawah tanah, terdapat pipa-pipa besar yang menampung air guna mengaliri beberapa wilayah di Semarang. Terdapat sambungan pipa berdiameter 0, 5 m dengan 3 jenis pipa, yang berukuran 1 m dan 2 bypas. Elevasi airnya mencapai 337 m dengan kapasitas rata-rata 81, 76. Meski sudah berumur hampir seabad, hingga kini pipa aliran air itu belum pernah pecah atau diganti.

Reservoir tertua itu sampai sekarang mengaliri air hingga ke wilayah Pudakpayung, Kalipancur, Srondol hingga kawasan Watugong. Di daerah Sumurejo terdapat 3 buah tempat penampungan air, Moedal besar, Kalilawang, dan Tuk Ancar.

Tak Tahu Sejarah

Saat ini, bangunan itu dikelola PDAM Tirta Moedal Kota Semarang.  Sayang, sampai kini baik PDAM Tirta Moedal Kota Semarang maupun masyarakat sekitar tidak tahu persis siapa yang merancang dan membangun bangunan tersebut. Padahal, bangunan itu mempunyai nilai sejarah yang tak kecil peranannya terhadap kelangsungan air di Semarang.

Warga asli Sumurrejo, Istiqomah (45) bahkan kebingungan ketika ditanya sejarah tentang penampungan air itu. “Wah, yo wis suwi banget. Jaman Londho kae,” ujarnya singkat.

Karena tak ada yang tahu asal muasalnya, banyak berkembang cerita di masyarakat. Ketika ditanya tentang nama Moedal, Guneman yang lucu pun meluncur dari bibir Syamsuddin (55), warga pendatang yang berasal dari Randu Dongkal, Pemalang. “Moedal itu berasal dari bahasa Jawa, jadi  air yang berasal dari tuk kemudian airnya itu mancur deres, trus dadine yo mudhal-mudhal. Di daerah Tegal ada nama Moedal juga,” celetuknya. [RA]

One thought on “BRONGEBOUW MOEDAL, RIWAYATMU KINI…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s