SEBUAH ANGAN DAN CITA-CITA

Terbersit dalam benak, dulu waktu kecil saya bercita-cita menjadi guru. Karena apa? Karena saya melihat sosok bapak yang setiap pagi berangkat ke sekolah, mengajarkan ilmu pada anak didik, rasa-rasanya menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia. Karena dengan mengamalkan ilmu, ilmu kita pun semakin bertambah. Semoga!

Dan saya pun semakin yakin akan angan dan cita-cita untuk menjadi seorang guru. Singkat cerita pada waktu memasuki Madrasah Aliyah (MA) atau sederajat dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) anak-anak kelas I diwajibkan untuk menjadi guru [bahasa gaoelnya ustadzah bagi yang cewe, dan ustadz bagi yang cowo…] ya setidaknya mengamalkan ilmu mereka ke sebuah padepokan kecil [bisa dibilang TPA, bukan Tempat Pembuangan Akhir lo?! Tapi, Taman Pendidikan Al-quran] untuk mengajarkan anak-anak baca tulis Al-quran.

Saat itu, saya sangat senang sekali membantu adek-adek untuk belajar Iqra/Al-quran. Selain itu, ada juga kegiatan menyanyi dan bermain. Ah, alangkah indahya mengingat masa lalu yang sangat berkesan…

Akan tetapi, lambat laun kemudian angan dan cita-cita saya pun luntur waktu memasuki ujung pintu kelas II MA. Kebetulan waktu di kelas II saya diberi amanah pada teman-teman sebagai sekretaris dalam agenda tahunan, yakni Camping Dakwah Ramadhan (CDR XI) untuk kafilah Afra binti Tsa’labah.

Yach, namanya juga sekretaris, pasti kerjaannya tulis-menulis, ngetik-mengetik. Berhari-hari bekerja seperti itu dan berlanjut untuk agenda tahunan yang lain. Pada waktu itu dalam OPPK [kalo di sekolah pada umumnya disebut OSIS] saya tak menjabat inti organisasi. Saya diberi amanah untuk menjabat departemen keamanan. Dan lagi-lagi itu adalah amanah yang diberikan teman-teman kepada saya.

Waktu itu saya sangat antusias sekali ketika diberikan amanah untuk menjadi sekretaris [pikiran picik pada saat itu adalah dengan saya menjadi sekretaris saya bisa belajar secara otodidak mengenai komputer…hehehe… ya, itung-itung sambil menyelam minum air… hehehe]

Nah, mulai dari kegemaran saya ngetik-mengetik, terbesit keinginan menjadi sekretaris atau pegawai kantor di perusahaan yang berkelit dan selalu berhadapan dengan komputer [ya… walau sering ngetik, sampai sekarang saya juga belum bisa lanyah untuk memainkan keybord QWERTY… hahaha]

Dan pada akhirnya…

Setelah Ujian Akhir Nasional (UAN) MA, saya pun bingung untuk meneruskan studi kemana? Tapi, karena sesuatu hal saya pun merenung, ”Dari dulu Bapak ingin sekali memasukkan anaknya ke sekolah ini. Akan tetapi, yang baru bisa lolos masuk saya dan adik saya. Saya rasa Bapak ingin lihat anak-anaknya bisa sekolah ke LN (luar negeri maksudnya… karena sekolah ini dikenal para alumnusnya lulusan dari beberapa negara, seperti Cairo, Yaman, Libya, dsb) ya, asal coba-coba saja [tapi bukan berarti tak ada usaha] saya mencoba untuk mengikuti test ujian masuk ke Mesir.

Hari demi hari, minggu demi minggu t’lah terlewati sang waktu. Tibalah saat pengumuman datang. Dan… Alhamdulillah ternyata saya tak lolos dalam ujian tersebut [waktu itu ada 3 cewek yang ikut seleksi beasiswa untuk kuliah disana, tapi tak ada satu pun yang lolos… ya nasib! Bener aja gak ditrima, lawong bahasa Arab aja masih mlethat-mletot, baca kitab kuning juga gak becus, nahwu-sharaf apa lagi! Ditambah gak hafal Quran! Hahaha… sempurna penderitaan hidup saya…]

Namun demikian, bapak tak patah arang untuk berniat menyekolahkan saya ke negeri seribu menara.

”ya sudah, swadaya saja bagaimana?” tanya Bapak bersikeras padaku waktu itu.

Be te we, kok ngomongnya jadi nglantur sampai situ ya? Hadueh, kembali ke jalan yang benar… Dengan banyak pertimbangan, akhirnya saya memutuskan saya masuk Unnes.

Oya, saat ini saya masih menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dan alhamdulillahnya, saya masuk pada jalan yang benar. Maksud’e? Ya saya ikut jalur SPMB untuk masuk ke Unnes. Karena kalo ikut yang jalur awal ato akhir bayarnya mahal… ya maklum lah, bapak saya pekerjaannya kuli pemerintah, jadi untuk menanggung beban untuk sekeluarga harus dicukup-cukupkan… mekso!

Kenapa saya memilih prodi (Program Studi) itu? Ya, karena beberapa perenungan. Salah satunya back to nature… maksudnya kembali ke angan dan cita-cita awal saya tadi. Jadi guru! Dan karena permintaan bapak juga. “Terserah opo wae, sing penting Pendidikan…” ungkap bapak.

Karena dulu MA saya adalah Program Khusus Keagamaan maka tak mungkin saya memilih Prodi MIPA atau ilmu sosial, terlebih teknik… hadueh! Tapi, karena kecintaan saya terhadap bangsa Indonesia [lho? Tambah gak nyambung! Tapi disambung-sambungke aelah wakawaka…e’e’e]

Saat ini saya sedang menyelesaikan akhir studi saya. Di sela-sela merampungkan akhir studi, saya terbersit suatu angan-angan ingin jadi DOSEN! Kakaknya Guru. Entah karena hasutan siapa dan apa, tiba-tiba kata ”dosen” merajai pikiran saya. Dan disebabkan juga saya melihat prodi yang saya tempati untuk ngangsu ilmu sangat minim dosen. Sehingga membuat tekad saya bulat untuk menjadi dosen. Hahaha ngarep… [yo ra popo ta ya? Jenenge ae angen-angen…]

Namun, dalam perenungan saya ternyata jadi dosen tu gak gampang! [sebenernya jadi apa aja juga gak gak gampang! Tinggal usahanya ajah…hehehehe]

Jadi dosen tu harus bisa 3 N, yaitu Ngulang, Neliti, Ngabdi. Yang harus buat karya ilmiahlah, penelitianlah, makalah, dan ditambah lagi ngulang à ngamalke ilmu yang didapat kepada peserta didik alias mahasiswa. Ck…ck…. ck… kalau amalan ilmu saya salah dan saya ajarkan pada anak didik saya, apa itu tidak menjadi dosa yang sangat buueesaaarrr bagi saya? Hmmm….

And finaly, saya bingung! Gundah gulana mau jadi apa? Tapi yang terpenting, saya dicipta di dunia untuk menjadi yang berguna bagi manusia alam semesta…

Salam ta’dhim kagem Mamah… Abah… Love you so much…

Wallahu a’lam

Brongebouw, 25 September 2010

8 thoughts on “SEBUAH ANGAN DAN CITA-CITA

  1. ha..ha..ha.. dadi dosen kuwi enak-enak susah… enake, kita bisa kembangkan ilmu, minimal hidup bisa mapan (walopun minimalis), ngumpul karo mahasiswa2, tapi gag enake, saiki kudu dosen kudu s2, he..he..he.., buat orang2 koyo aku kudu pontang-panting cari biaya sendiri, wkwkwkwk, tak doake dadi dosen wes…. he…he…he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s