Dia Ada Namun T’lah Tiada…

Pertama liat buku ini kayaknya asyik buat dibaca! Ringan! Dilihat dari covernya lucu dan menarik! Dan waktu liat di cover bagian belakang ada tulisan:

PERINGATAN

Membaca buku ini dapat menyebabkan pipi pegel, perut kenceng, mata berair, dan badan goyang-goyang!

Penerbit tidak bertanggung jawab atas risiko tertawa tanpa henti akibat membaca buku gokil ini.

Di samping buku nyastra, fiksi atoupun nonfiksi aku juga suka dengan buku yang berbau lucu, gokil, de esbe sebagai peregangan otak saja! Aku pun langsung mengambil buku ini.

 

 

 

 

Sinopsis Diary Dodol ABG Ngocol

Lembar per lembar aku baca. Dan ternyata buku ini menurutku lumayan lucu! Buku ini berisi kumpulan ceritanya Ivan, biasa dipanggil Ipenk atau Ipeng. Seorang siswa yang lebih sering dikira tukang ojek daripada seorang pelajar.

Nah, cerita-cerita di dalam buku ini terinspirasi dari pengalaman-pengalaman si penulis, yakni Raden Mas Fahdin Ardhain cit…cit…cit… cuit pap cuap aye ayyuwah hemmm mantapz… [halm V]

Saat membaca lembaran yang terakhir tertera “Kairo, 11 Mei 2009. Fahdin Ardhain”, aku jadi penasaran! ”Berarti dia sekolah di Mesir! Jangan-jangan…ah siapa tau mereka kenal”, batinku.

Langsung saja, waktu buka lepy untuk menyibukkan diri dengan rutinitas sehari-hari: buat ye-em-an karo kanca-kanca trus ngechek email, dan balas coment di facebook.

Aku langsung tanya dengan teman SMA-ku yang sedang studi di negeri seribu menara sana. Aku pun menyapanya lewat ye-em:

singkat cerita…

”San, mau tanya? Kamu tau Fahdin Ardhain gak?”, tanyaku.

”Angkatan berapa?” jawab Exan.

”wah gak tahu, dia asli Ponorogo!” selidikku.

”hmm, gak tau ik…”

”owh, yowes…”

”Emang kenapa?” tanya Exan.

”Owh, gak papa…” jawabku singkat.

”Hmmm, masak Exan gak tau? Ah, iya ya… di sana murid Indonesia kan buanyak! Pa lagi mungkin Fahdin Ardhain ini bukan nama aslinya. Alias nama penanya!” pikirku waktu itu.

Entah kenapa aku diliputi rasa penasaran dengan penulis buku ini. Nah, waktu malem minggu kemaren aku gak bisa tidur. Aku pun menyalakan lepy. Sapa tau ntar bisa tidur sendiri…🙂

Saat me-login ye-em, kulihat Bang Qodear (Kakak kelasku waktu SMA yang juga ngudi ngelmu di negeri kinanah) masih available. Aku pun iseng tuk menyapanya.

”🙂 ”, sapaku singkat dengan smileicon.

”weh, kok rung bobo Nduk?” tanya Bang Qodear keheranan.

”hehehe, lagi ngerjani wong Bang…gegegeg!” jawabku usil.

Sembari bercengkrama dengan Bang Qodear. Aku iseng-iseng berhadiah! Mencari-cari kisah tentang Diary Dodol ABG Ngocol lewat mbah Google.

Singkat cerita…

Selepas kulihat http://udoyamin.multiply.com/journal/item/149, ternyata Fahdin Ardhain nama aslinya adalah Badrun Syamsu Rangga Dyka. Lalu kutanya Bang Qodear.

”Bang, kenal Badrun?”selidikku.

”Owh, tau! Dia adek tingkatku!”

Sambil menanti tanggapan lanjut dari Bang Qodear, aku pun membaca http://udoyamin.multiply.com/journal/item/149

Aku pun tak merasa yakin! Mencari info lebih lanjut. Ketika membaca sebuah blog http://sambalacan.blogspot.com/2009_07_01_archive.html , aku terperangah!

Kamis, 16 Juli 2009

Setengah tak percaya aku mendengar kabar wafatnya Badrun. Saat itu aku masih berada di Wisma Nusantara, Rabea el Adawea karena ada kegiatan yang diselenggarakan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Mesir. Salah seorang teman menyodorkan rekaman percakapannya melalui aplikasi chatting Yamee! di ponselnya yang mengabarkan berita tersebut. Masih tak percaya, aku buka Yahoo! Messenger di ponselku dan kudapatkan banyak pesan offline memberitakan kabar duka; adik kelasku Badrun Syamsu Rangga Dyka meninggal akibat tenggelam di pantai Sharm el Sheikh. Teman-teman lainnya yang ikut rombongan tour ke Sinai sempat memberikan pertolongan namun Allah memanggilnya dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Malam setelah selesai acara, aku mampir di Sekretariat IKPM Cab. Kairo, ingin memastikan kejadian itu. Ternyata kabar yang tidak aku harapkan itu bukan isapan jempol belaka.

Dan Bang Qodear pun menjelaskan kronologisnya, walaupun tak tahu persis ceritanya.

Mengutip http://udoyamin.multiply.com/journal/item/149: Badrun Syamsi memang telah tiada. Namun lewat bukunya Diary Dodol ABG Ngocol, Badrun tetap hidup. Beliau tetap bisa menghibur para pembacanya. Pepatah verba valent, scripta manent, benar-benar terbukti. Semua perkataan Badrun hilang, namun tulisannya tetap abadi.

Judul               : Diary Dodol ABG Ngocol
Penulis           : Fahdin Ardhain
Penerbit        : Lingkar Pena Kreativa
Cetakan         : Pertama, Juni 2009
Tebal              : 184 hlm

Wallahu a’lam…

Brongebouw, 11 Oktober 2010

7 thoughts on “Dia Ada Namun T’lah Tiada…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s