Mendadak Khutbah [part I]

khutbah dadakan

Mendadak Khutbah

Terlihat Pak Abdul merasa gelisah di sudut masjid. Diliriknya jam tua yang setia bertahun-tahun menggantung di dinding masjid.

“Sudah setengah satu…” desisnya. “Biasanya jam segini kan salat jumat sudah selesai?! Kenapa belum ada yang khutbah? Bisa bahaya ini kalau tidak ada yang khutbah! Kacau!” batin Pak Abdul gelisah.

Tiba-tiba Pak Abdul teringat akan candaannya dengan Pak Ali sebelum berangkat salat jumat.

“Wuah, minyak’e Pak… koyo Syeh-syeh Arab ae! Hehehe…” canda Pak Ali dengan menyindir karena merasa tidak tahan dengan bau minyak wangi yang dipakai oleh Pak Abdul.

Padahal Pak Abdul hanya mengoleskan sedikit minyak ditelapak tangannya. Tapi masyaallah baunya ya Allah ya Rabb… bikin eneg! Rasanya mirip orang yang sedang masuk angin naik bus umum tanpa AC dengan penumpang yang berjubel di sana-sini. Bau-bau asing pun bercampur dan menghampiri. Sementara itu, di daerah pedalaman sana, makanan yang telah di serap sedang bergerilya. Hantaman demi hantaman membuat perut tak berdaya. Ingin lari ke lubang atas tidak bisa. Lari ke lubang bawah juga tak bisa. Buntu. Hanya menyisakan sesak di dada! Haduwh, parah!

“Hahaha, Syeh Arab napa tha, Pak Ali? Lha kan badhe khutbah?” kelakar Pak Abdul.

“Owalah, mbok minyak wangin’e niku seperti saya ini Pak Abdul. Wangin’e cedhak mbek suwargo!” guyon Pak Ali, pamer dengan minyak wangi yang di pakainya. Tapi memang sebetulnya minyak wangi yang dipakai Pak Ali lebih harum dibanding yang di pakai Pak Abdul.

“Alah, ini juga wangi kok minyak yang saya pakai! Kalau njenengan cedhak, saya sudah bukan dekat lagi, tapi sudah masuk suwargone, Pak…” timpal Pak Abdul yang tak mau kalah dengan terkekeh-kekeh.

Pak Abdul hanya mesam-mesem saja waktu ingat kejadian tadi. “whuoah, apa ini tanda-tanda? Masa saya yang harus khutbah? Tadi kan saya cuma bercanda!” batin Pak Adul disertai keringat dingin yang keluar dari sela-sela pori-pori kulitnya.

Dag-dig-dug-dag-dig-dug…

Semakin lama, batin Pak Abdul berkecamuk. Jantungnya pun semakin berdegup kencang.

“Aduh! Saya nggak siap kalo saya yang harus berkhutbah! Mau khutbah apa? Pidato saja nggak pernah! Apalagi harus tampil di depan dan disaksikan banyak orang saja saya dredeg! Bisa-bisa gagu, nggak tahu harus ngomong apa?! Ya Allah, piye tho iki?!”

Para sesepuh yang berada di shaf depan pun terlihat gusar. Saling tunjuk untuk memberikan khutbah, agar salat jumat pun bisa dimulai.

Monggo Pak Hasan…” celetuk Kang Umar dengan nada cemas.

“Whoalah, niki mboten jatah jumat kulo khutbah je! Apalagi kalau mendadak seperti ini? Mboten siap kulo, Kang…” kilah Pak Hasan.

“Kalau Pak Hasan mboten saged, monggo Pak Rusydi?”

“Ealah, Kang Umar! Kulo nggak bawa kacamata dan teks khutbah, jadi saya nggak bisa…”

“Lhah, lhah, lhah? Apa-apan ini? disuruh menggantikan khutbah saja ngelesnya macem-macem! Yang bukan jatah khutbah jumatnyalah, yang ini, yang itu. Sampai-sampai nggak bawa kacamata saja buat alasan nggak mau khutbah?!?! Piye tho yo, yo?!?! Kapan negara maju nak ngene carane?! Sing tuo-tuo ae malah podo udhur-udhuran!” batin Kang Umar kesal.

Jamaah pun semakin riuh, mirip suara gerombolan lalat yang berterbangan. Melihat kondisi seperti ini Pak Ali merasa cemas. Walaupun Pak Ali jarang salat jumat di masjid ini, karena Pak Ali lebih suka salat jumat di berbagai tempat dengan alasan lebih bervariasi sekaligus mbangun silaturahmi antarkampung. Pak Ali pun tidak tinggal diam.

Dengan langkah agak gontai, Pak Ali memberanikan diri melangkah ke depan dan berdiri di mimbar. Dengan suara lantang, Pak Ali pun berseru, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…”.

Huruf demi huruf terangkai menjadi kata. Kata demi kata terangkai menjadi kalimat. Dan Kalimat demi kalimat yang terucap pun terangkai menjadi beberapa paragraf yang menghasilkan pidato khutbah jumat dengan tutur kata yang santun dan bermakna. Terpancar perasaan lega menyelimuti jamaah. Wajah-wajah yang tadinya hitam legam menjadi cerah merah merona.

“Ckckckck, Pak Ali hebat! Belum pernah saya melihat orang khutbah tanpa teks di masjid ini!” celetuk salah seorang jamaah kagum atas keberanian Pak Ali.

***

bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s