Mendadak Khutbah [part II]

Seusai salat jumat, Pak Mukhtar menghampiri Pak Ali. “Terima kasih, Pak Ali. Saya minta maaf…” khilaf Pak Mukhtar sembari menjabat tangan Pak Ali.

Njeh, sami-sami, Pak…” jawab Pak Ali.

Belum selesai bicara, Pak Mukhtar pun menyela. “Saya minta maaf, seharusnya saya yang khutbah karena ini jadwal khutbah jumat saya. Tapi saya benar-benar lupa kalau ini hari jumat! Karena saking banyaknya tamu yang datang ke sekolah, saya kira ini masih hari kamis. Saya baru ingat waktu anak saya telepon untuk pulang. Ngapunten njeh, Pak Ali. Matur suwun sanget…”curhat Pak Mukhtar untuk menutupi rasa malunya yang notabene kepala sekolah di SMP ternama .

***

Sewaktu perjalanan pulang, Pak Ali bertemu lagi dengan Pak Abdul.

“Terima kasih Pak Ali, sudah menyelamatkan jamaah!” seru Pak Abdul dengan rasa senang.

Lha pripun maleh, keadaan mpun kacau ngoten. Kasihan jamaah sudah menunggu terlalu lama, terlebih lagi bahaya untuk masjid ke depannya” jawab Pak Ali merendah.

“Saya tadi sempet deg-degan waktu tidak ada yang khotbah. Yang seharusnya setengah satu itu salat jumat sudah selesai, kok jam segitu belum ada yang khutbah?! Lalu saya ingat dengan candaan kita sewaktu berangkat tadi, Pak Ali…”

“Asal jenengan tahu, Pak Abdul. Waktu di mimbar tadi, saya sudah nggak peduli orang-orang. Entahlah, mata saya sama sekali nggak melihat jamaah. Saya hanya pantengi aja tu rukun-rukun khutbah. Kalau rukun-rukunnya nggak tertib atau ada salah satu yang nggak saya sebutkan, waduh… kacau jadinya! Bisa-bisa salat jumatnya batal! Apa ada sejarahnya, salat jumat batal karena tidak ada yang khutbah? Apa kata dunia?!”curhat Pak Ali. “Tadi saya hanya bermodalkan nekad! Sambil mengingat-ingat rukun-rukun khutbah apa yang harus di baca dan dilaksanakan…” lanjut Pak Ali.

Tiba-tiba dari kejauhan, “Pak Ali! Njenengan dipadosi Bu Aminah” seru Kang Husein, anak didik Pak Ali.

“oya, ya… sekarang Bu Aminah di mana?” tanya Pak Ali.

Mpun ten ndalem. Ditenggo ten mriko…

“oh, yowes…” jawab Pak Ali singkat. “Kalau begitu, saya duluan ya Pak Abdul. Tak wangsul riyen…” Pak Ali pamit undur diri.

“ouwh, njeh-njeh, Pak Ali. Nderekaken…

Pak Abdul pun mematung di pinggir jalan. Masih menatap sosok Pak Ali yang berjalan menjauh dari pandangannya. Ada sepercik rasa haru dan kagum dalam hati Pak Abdul terhadap Pak Ali. Sosok yang cerdas, bersahaja, dan terkadang nyeleneh. Dengan sifat nyelenehnya itu yang terkadang membuat sebagian orang menilai Pak Ali adalah ‘ancaman’ bagi mereka, sehingga sering kali dikucilkan oleh masyarakat.

“Gusti Allah mboten sare, Pak Ali. Allah memang Maha Mengetahui mana yang haq dan mana yang batil. Cara Gusti untuk menunjukkan mana orang yang baik dan mana orang yang buruk itu memang unik. Pak Ali… Pak Ali… Penyelamat jamaah, penyelamat bangsa! Standing applouse buat Pak Ali!” gumam Pak Abdul dengan senyum simpulnya.

Brongebouw, awal Juli 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s