Mbabu: Pekerjaan Yang Mengasyikkan

Hhhaaalllahghghgh… opo to yo..yo.. ra prestise banget! Mbabu ko kerjo sing nyenengke?!

Ya…ya…ya… terserah Anda berpendapat apa! Wwhhaaatevveeer-lah, yang pasti saya setuju jika mbabu adalah pekerjaan yang mengasyikkan.

Ouwhm… Bicara masalah mbabu, saya jadi teringat pada suatu kesempatan dalam forum saya pernah melontarkan kata “PNS=BABU”. Anda [bagi PNS] tersinggung? Jangan tertawa dulu bagi yang nonPNS. Bagi yang tersinggung, sebelumnya saya minta maaf. Bagi yang menertawakan, plis deh jangan lebar-lebar kalo ketawa. Senyum simpul saja.🙂

Oya, saya akan melanjutkan cerita saya. Tadi sampai mana? Ohya, kata “BABU”. Waktu itu ada diskusi kecil mengenai seputar “profesi dan teknisi”. Entah ada angin apa, tiba-tiba saya menyela ditengah-tengah diskusi yang sedang berlangsug. Dan ketika itu juga saya menyelipkan kata “itu” tadi [tidak baik kata “itu” diulang-ulang terus]…😀

What you’re guess?
What do you think?

Ahaaa! Binggo!

Daaaaannn spontan saja, saya dibantai habis-habisan di Te-Ka-Pe. Whouahhwhmmm… jangan ditanya lagi, protes sana-sini dan sampai saya dibilang “sesat” oleh teman saya sendiri. Tapi, dengan santainya saya tetap melanjutkan ‘uneg-uneg’ yang ada dipikiran saya *berlagak cuek*. Kebetulan juga di dalam forum itu ada tiga orang yang menyandang status PNS dengan kuota forum tigabelas orang.

Saya pun berceloteh sendiri di dalam hati. “Kenapa sih? Ada yang salah ya dengan kata babu? Memangnya babu itu pekerjaan yang hina? Sehingga kalian berucap seolah-olah tidak terima atas pernyataan saya? Apa bedanya babu dengan pelayan, pembantu, buruh? Saya kira esensinya sama saja! Yaaa, mungkin sebagian pendengar yang risi dengan kata ‘itu’ tadi menilai kata ‘babu’ adalah mengandung makna yang negatif, peyoratif, provokatif, sehingga membuat kuping Anda sensitif!”. Tapi, saya rasa ‘babu’ itu bukan kata-kata yang najis. Coba bandingkan dengan sebutan “Jongos”? “Kacung”? Lebih bermartabat mana?”. Pikiran saya pun mulai mendidih.

Untung saja, ketika sesi diskusi selesai, ada teman yang “mendukung” dengan quote saya. Dia ngadem-ngademi saya dengan rangkaian kata manisnya. Ada perasaan sedikit lega karena merasa ada ‘pendukung’. *tenang,,, kamu tak sendirian, Hihihi😀

Perlu dicatat bahwa bukan berarti ketika saya melontarkan kata ‘itu’ tadi saya membenci PNS. Ini sebuah renungan atau dialog bersama ketika status PNS yang saat ini atau dari beberapa tahun lalu selalu diagung-agungkan dan dielu-elukan oleh banyak orang. Kalau pun semisalnya saya berstatus PNS, saya pun akan terima dengan sebutan ‘babu’. Toh, juga tidak ada ruginya bagi saya? Lagian memang benar adanya bahwa PNS memang seperti itu. Bagaimana tidak? Coba dipikir? Apa bedanya PNS dan babu? Status? Gaji? Prestise? Esensinya sama saja! Melayani. Bekerja untuk melayani juragannya. Apakah ‘babu’ bukan pekerjaan yang mulia? Manusia saja menjadi ‘babu’ bagi TuhanNya, dengan melaksanakan semua perintah dan kewajibanNya.

Jadi ingat cerita teman saya. Dia bercerita kalau lulusan sekolah tingginya tidak diperkenankan menduduki status PNS. Entah apa sabab-musababnya, tapi sepertinya ijazah yang dipersoalkan. Dan teman saya tadi nyeletuk dengan perasaan jengkelnya, “Aaahhh, nopo tho podo ngributke ora ketampa Pe-eN-eS? Jek akeh gawean liyane. Dunyo juga ra bakal kiamat!”

Ya, ya, ya… dunia memang tidak akan kiamat hanya gara-gara tidak diterima Ce-Pe-eN-eS. Aaakhhhh… ya sudahlah. Saya juga tidak mau berlama-lama meperdebatkan masalah kata ‘itu’ tadi. Karena saat ini saya sedang menikmati pekerjaan baru saya sebagai “babu”! sangat menyenangkan sekali. Seperti halnya yang dilakukan oleh babu-babu yang lain. Ngladeni juragan itu merupakan aktivitas sehari-hari saya. Dan saya senang melakukannya. Karena babu adalah pekerjaan yang menyenangkan, pekerjaan yang mengasyikkan!🙂

*Sebelum dan sesudahnya, saya meminta maaf kepada segenap PNS jika tersinggung dengan tulisan saya ini. Ini hanya “uneg-uneg” saya.

Hidup Baabuuu! Merdekaaa!!!

Brongebow, 6 Januari 2012

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s