Ngelmu Kasyaf I: Mbah Janji

Kamis pagi yang cerah, semoga membawa berkah. Melihat pagi yang bersahabat, saya pun bersiap-siap berangkat.  Sudah lama saya tidak pernah sobo nang alas, main ke hutan. Walaupun rumah saya dikelilingi tanah luas dengan aneka pepohonan, saya menganggapnya itu bukan sebuah alas, tapi tegalan. Pagi itu setelah mengurusi tetek mbengek, saya meluangkan waktu untuk pergi ke alas. Walau hanya sekadar melihat dan hanya menemani teman yang memang sedang ‘mroyek’ di sana.

Setelah melihat tanduran dan sesekali bercakap-cakap dengan teman saya, tiba-tiba datang sesosok mbah yang asing bagi saya. Seketika itu juga teman saya pun menyambutnya dengan senang. Beliau asyik bercengkrama dengan teman saya. Seperti sudah lama kenal. Saya pun hanya memperhatikan dari kejauhan. “Mbah ini ternyata gaul juga, ya?!” kelakar batinku. Mata saya agak geli plus rada aneh melihat simbah nang alas pake sepatu ‘keren’. Mana warna tali sepatunya yang kiri dan kanan beda. Gimana gak gaul?! Tapi bukan alay ya… ehek ^,^

Simbah mlampah thimik-thimik… Ke sana ke mari, melihat bibit yang mau ditandur. Sampai akhirnya simbah ndodok di samping saya. Tak perlu lama untuk memulai percakapan hanya sekadar basa-basi dengan simbah. Saya pun menyodorkan jajanan yang sedari tadi tergeletak tak berdaya di bawah pohon sengon. “Monggo, mbah… disekecakke”. “Oya, ya..ya…” tukas simbah sembari melempar senyum. Tak lama kemudian, tanpa basa-basi simbah langsung nembak saya dengan pertanyaan yang cukup membuat saya heran. “Nduk, lahirmu dino [salah satu nama hari] ya?“. Saya pun kaget, “Loh? Simbah kok tau?” jawabku masih tak percaya. “Bathukmu kwi lo, cetho! Nak lahirmu dino kwi”. Batin saya pun langsung merespon cepat, “ini simbah yang spesial. Punya ilmu kasyaf sepertinya…”. Saya pun berceloteh dengan nada candaan, “Simbah punya ilmu kanuragan ya?”. “Weton apa, Nduk?” selidik simbah yang tak menghiraukan candaan saya. “Lha kinten-kinten napa, Mbah?” gurauku waktu itu pada simbah. Sampai akhirnya kami pun hanyut dalam percakapan yang hangat kamis pagi itu.

“Namanya mbah Janji”, celetuk temanku selepas simbah pergi karena harus mencari rumput untuk beberapa kambing yang dipeliharanya. Saya pun hanya menganggukkan kepala, tanda mengerti.  Tiba-tiba beberapa slide memori yang ada di kepala membuka beberapa file yang ada. Teringat beberapa kisah tentang ‘orang-orang yang mempuyai ilmu ini’. Salah satunya kakak dari teman saya ini. Sebut saja Kang Parjo. Sayangnya, Kang Parjo ini waktu melaksanakan amalan belum “tuntas”, sehingga dia belum bisa me-manage emosinya. Akibatnya, Kang parjo  dianggap edan oleh masyarakat sekitar, Karena setiap bertemu dengan orang, Kang parjo selalu memukul: ngampleng, njotos sak udele dhewe, padahal orang yang dijumpainya tidak melakukan apa-apa.

Kenapa Kang Parjo melakukan demikian? Katanya sih, ketika keluar rumah dan menemui beberapa orang yang dilihat Kang Parjo, kang Parjo hanya melihat sosok mereka ‘manusia-manusia’ berwajah ataupun berkepala hewan. Ada yang berwajah mirip seperti anjing, ada yang seperti babi, kerbau, sapi, dan sebagainya. Sehingga dalam kaca mata Kang parjo, orang-orang yang berwajah ‘hewan’ ini berdosa dan perlu ‘ditegur’.

Dan Saya pun mulai iseng bertanya pada teman saya, “Wuih, berarti mbah Janji kayak masmu ya? Eeeeh, bukaaaan… tapi masmu yang kayak mbah Janji, ding! Kira-kira tadi mbah Janji liat wajahku seperti apa ya? Hmmm…”, benak saya pun membayangkan apa yang dikatakan mbah Janji pada saya.

Wallahu a’lam…

Patemon, Kamis Wage 22 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s