Tukang Ojek Biru Berhelm Kuning: Sebuah Pengamatan (Tidak) Ilmiah Di Kabupaten Nabire

Ojek Nabire Baru--dhaychee

Perhatikan foto tersebut!
Merasa ada kejanggalan?
Ada yang aneh?

Awalnya saya tidak begitu nggubris dengan rompi yang dipakai oleh bapak ojek tersebut. Akan tetapi, karena bapak ojek berhenti di lampu merah tepat di depan saya dan sepertinya lampu apill merah masih lama untuk merangkak berganti ke lampu hijau. Walhasil, mata iseng saya pun mulai melihat dan membaca situasi di sekitar. *mbenerin kacamata

Mata saya pun mulai meniti. Mengamati awan putih yang sedang menggelayuti langit, melihat ruko, melirik kabel-kabel listrik yang tak beraturan, dan mata saya pun berhenti kala melihat tulisan yang berbaris setengah melengkung dipunggung rompi bapak ojek tadi. Saya pun akhirnya mengernyitkan alis. Di sana tertulis “OJEK NABIRE BARU HELM KUNING”.

Hhh?? *masih mengernyitkan alis
Hhhh? *lagi. Tambah ngernyitkan dahi

Bukannya yang melekat di kepala pak ojek itu helm berwarna biru? Rompi pun juga berwarna biru? Gumam hati saya.

Saya pun masih tak percaya. Saya baca sekali lagi secara perlahan. Masih tulisan yang sama. Sekali lagi mata saya agak saya julurkan ke depan agar bisa terlihat lebih jelas. Tetap sama!

Akhirnya, mata yang menangkap informasi untuk transfer ke otak saya pun, gagal paham!

Konvensi

Sepanjang perjalanan, otak saya pun akhirnya me-retrieval kata, frasa, klausa, dan istilah-istilah lainnya. Lalu saya pun teringat dengan istilah konvensi. Setahu saya dalam linguistik, konvensi itu kesepakatan berbahasa. Misalnya, meja. Kata meja itu merujuk pada benda atau perkakas yang terbuat dari kayu, besi, dan sebagainya yang mempunyai bidang datar sebagai daun meja dan berkaki (baik satu, dua, tiga, maupun lebih) sebagai penyangganya. Dan kata meja disepakati oleh masyarakat atau komunitas tertentu untuk merujuk pada benda tersebut. *maksud kan ya penjelasan singkat dari saya, hehe🙂

Kembali ke helm biru yang diklaim helm kuning oleh Pak ojek tadi. Apakah kata kuning yang digunakan merupakan konvensi dari komunitas pangkalan ojek di Nabire Baru untuk menyebut warna biru menjadi warna kuning? Sementara warna biru dan warna kuning pun sudah dikonvensikan? Hampir seluruh – saya katakan “hampir” karena ada warga yang mempunyai penglihatan yang tidak normal: katarak, buta warna—warga Indonesia pun tahu akan hal itu, mana warna kuning, mana warna biru?

Tik tok tik tok…klik klok klik klok…

Melihat kasus itu pun saya berkesimpulan –yang masih dalam tahap hipotesis(ngasal). Ada dua hipotesis (ngasal) yang dapat saya kemukakan. IYA dan TIDAK. Pertama, iya: istilah helm kuning dikonvensikan oleh komunitas pangkalan ojek di Nabire Baru untuk penyebutan helm yang berwarna biru. Kemudian yang kedua, tidak: seperti yang telah saya sebutkan tadi, sebagian warga Indonesia ada yang mengalami penglihatan tidak normal. Jadi penyebutan warna biru, bagi penglihatan “mereka” adalah warna kuning.

Hipotesis (ngasal) saya pun akan bisa terjawab jika saya sudah melalui tahapan berikutnya, yakni melakukan methodology of research dengan menggunakan metode wawancara. Metode ini dilakukan pada komunitas pangakalan ojek di Nabire Baru tersebut. Dan siapakah pelopor dari ojek helm biru untuk penyebutan helm kuning?

Sayangnya, saya belum berkesempatan untuk mewawancarai bapak-bapak di komunitas ojek Nabire Baru tersebut, saya sudah harus pindah ke kota dan provinsi lain. Yaaaahhh… *eluspipi

retrival: mendapatkan kembali informasi yang ada di otak
linguistik: ilmu tentang bahasa

Wagom, 3 Maret 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s